Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Personal Stories

Ketika Rencana Terbaikmu Gagal, Mungkin Tuhan Sedang Menyelamatkanmu

  Pernah nggak sih kamu ada di titik di mana kamu merasa sudah merencanakan sesuatu dengan sangat matang? Kamu sudah berusaha, berdoa, menjaga harapan, bahkan membayangkan betapa bahagianya hidupmu nanti kalau rencana itu berhasil. Tapi ternyata… gagal. Dan yang paling menyakitkan bukan cuma kegagalannya, melainkan pertanyaan yang muncul setelahnya: "Kenapa Tuhan nggak kasih jalan?" "Padahal ini yang menurutku terbaik." "Apa Tuhan memang nggak mau aku ada di rencana itu?" Jujur, perasaan seperti itu manusiawi banget. Kadang kita merasa sudah menemukan arah hidup. Sudah yakin bahwa inilah pekerjaan yang tepat, hubungan yang tepat, kesempatan yang tepat, atau mimpi yang paling kita inginkan. Sampai akhirnya kenyataan berkata lain. Pintu yang kita kira akan terbuka malah tertutup rapat. Awalnya mungkin kita kecewa. Marah. Bingung. Bahkan diam-diam mempertanyakan Tuhan. Karena menurut kita, kalau sesuatu itu baik, kenapa harus gagal? Tapi ...

Tidak Semua Pengangguran Itu Malas

Kemarin sempat ramai sebuah tweet dari seseorang yang kurang lebih isinya mengatakan bahwa banyak pengangguran itu malas, tidak mau berusaha, dan hanya mengeluh tanpa melakukan apa-apa. Mungkin bagi sebagian orang itu hanya sebuah opini di media sosial yang lewat begitu saja. Namun jujur, sebagai seorang pengangguran, tulisan itu cukup mengena di hati saya. Bukan karena saya merasa tersindir, tetapi karena saya merasa tidak dipahami. Setiap hari saya bangun dengan beban yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain. Dari luar, mungkin yang tampak hanyalah seseorang yang belum bekerja. Sesederhana itu. Namun yang tidak terlihat adalah perjuangan yang terjadi setiap hari di balik layar. Setiap pagi saya harus menguatkan mental terlebih dahulu sebelum membuka laptop atau ponsel. Saya harus mempersiapkan diri untuk kembali melakukan rutinitas yang sama. Memperbarui CV. Mencari lowongan baru. Membaca persyaratan yang kadang membuat minder. Mengirim lamaran ke berbagai perusahaan. Mengikuti ps...

Ketika Teman-Teman Lama Datang Lagi Lewat Mimpi

Hai, selamat siang. Hari ini saya ingin bercerita tentang sesuatu yang sebenarnya sederhana, tetapi meninggalkan banyak perasaan setelah bangun tidur. Mungkin sebagian orang pernah mengalaminya, dan mungkin juga ada yang sedang merasakannya sekarang. Tadi pagi, saat membuka mata setelah tidur, perasaan saya itu benar-benar campur aduk. Ada rasa bahagia, sedih, terharu, bahkan sedikit gelisah. Rasanya seperti baru saja pulang dari perjalanan yang sangat jauh, padahal saya hanya tidur semalaman. Penyebabnya ternyata adalah mimpi. Akhir-akhir ini saya sering sekali memimpikan teman-teman lama. Bukan hanya teman dari satu masa, tetapi teman-teman yang pernah hadir di berbagai fase hidup saya. Ada teman-teman saat masih duduk di bangku MI, ada yang dari masa MTS, dan ada juga yang dari masa SMK. Yang membuat semuanya terasa unik adalah jalan ceritanya sangat acak. Dalam mimpi itu saya berada di sekolah MI, tetapi teman-teman yang ada di sana bukan hanya teman MI. Mereka bercampur dengan tem...

Kembali ke JKT48 di Saat Hidup Sedang Tidak Baik-Baik Saja

Jujur saja, kalau ada yang bilang dua tahun lalu kalau saya akan kembali mengikuti JKT48, mungkin saya akan tertawa dan bilang, "Ah, kayaknya nggak mungkin." Kurang lebih selama dua tahun terakhir saya benar-benar jauh dari dunia JKT48. Tidak lagi mengikuti update member, tidak menonton konten, bahkan kadang tidak tahu lagu atau generasi baru yang muncul. Kesibukan hidup dan berbagai masalah pribadi membuat saya perlahan meninggalkan hal yang dulu sempat menjadi bagian dari keseharian. Tapi hidup memang lucu. Di saat saya sedang berada di fase yang cukup berat, ketika quarter-life crisis datang tanpa permisi, ketika saya kehilangan arah, kehilangan semangat, dan kehilangan banyak hal yang dulu membuat saya bersemangat, entah bagaimana saya justru kembali menemukan JKT48. Awalnya hanya iseng. Muncul satu video di beranda, lalu menonton satu lagi, kemudian satu lagi. Sampai akhirnya saya sadar kalau saya mulai mencari update mereka secara sengaja. Mulai mengenali member-member ...

Quarter-Life Crisis

Hai, dipikir-pikir sekarang jarang banget ya saya update blog baru.  Dulu rasanya hampir setiap hari selalu ada tulisan yang bisa dipublikasikan. Entah itu cerita sehari-hari, opini sederhana, atau sekadar berbagi hal random yang sedang ada di pikiran. Menulis terasa begitu mudah dan mengalir. Tapi akhir-akhir ini, jujur saja, sebulan dua kali update blog pun sudah terasa melelahkan. Bukan karena tidak punya waktu sepenuhnya, melainkan karena rasanya ada sesuatu yang hilang. The spark is gone. Belakangan saya sadar kalau mungkin saya sedang mengalami quarter-life crisis. Fase di mana kita mulai mempertanyakan banyak hal dalam hidup. Tentang tujuan, pekerjaan, masa depan, pencapaian, bahkan tentang diri sendiri. Kadang bangun pagi dengan perasaan bingung harus melangkah ke mana, padahal usia terus berjalan. Saya merasa kehilangan arah, kehilangan semangat, dan kehilangan minat terhadap hal-hal yang dulu sangat saya sukai. Menulis blog adalah salah satunya. Dulu membuka laptop dan me...

Menepi Sebentar dari Hiruk Pikuk Kehidupan

Hai semua, selamat malam.. lama sekali rasanya terakhir menyapa di blog? Padahal sibuk juga nggak.. sebenarnya akhir-akhir ini saya lagi cukup capek, bukan cuma capek secara pribadi, tapi juga capek melihat banyaknya berita yang kurang mengenakkan dari negara ini. Mulai dari nilai rupiah yang terus berfluktuasi, harga kebutuhan pokok yang terasa makin naik, sampai berbagai isu sosial yang berseliweran di media sosial yang kadang bikin kepala ikut penuh. Jujur saja, di tengah semua itu, rasanya sulit untuk tetap “tenang” dan fokus menjalani hari seperti biasa. Kadang saya cuma ingin berhenti sebentar dari semua informasi yang datang tanpa henti, tapi di sisi lain kita juga tidak bisa benar-benar lepas dari itu semua. Hidup di era digital membuat kita seperti selalu terhubung dengan kabar apa pun, baik yang menyenangkan maupun yang melelahkan. Tapi mungkin di situlah kita belajar sesuatu—bahwa tidak semua hal harus kita tanggapi dengan berlebihan. Ada saatnya kita cukup tahu, lalu kembal...

Capek Tapi Nggak Ngapa-Ngapain..

Kamu pernah nggak… Bangun tidur – buka HP Niat cuma sebentar – jadi sejam Pindah ke aplikasi lain – tambah lama Tahu-tahu udah siang Tapi anehnya, bukan santai… Malah capek. Dan bagian paling ngeselin? Kamu juga ngerasa bersalah, karena “nggak produktif” Kalau kamu pernah ngerasain ini, kamu nggak sendiri. Kenapa ya?   Sebenarnya bukan karena malas tapi karena masalahnya: otak kamu nggak pernah berhenti, dari bangun tidur, kamu langsung disambut: Notifikasi Video pendek Berita Chat Konten random yang nggak kamu cari Semua kelihatan ringan tapi buat otak? Itu kerja terus. Bayangin kamu makan terus seharian tanpa berhenti.  Bukan kenyang enak – yang ada malah eneg. Kurang lebih kayak gitu yang terjadi di otak kamu. Belum lagi efek “nunda tapi kepikiran” Kamu punya tugas. Tapi kamu tunda. Masalahnya, otak kamu nggak ikut “nunda” Dia tetap ingat. Jadi walaupun kamu lagi scroll, di belakang pikiran kamu ada suara kecil: “Harusnya saya ngerjain ini..” Itu bikin capek, diam-diam. Kam...

Punya Bakat tapi Setengah-Setengah

Saya sering berpikir, kenapa saya gampang sekali bosan sama sesuatu. Pernah semangat bikin konten, tapi beberapa waktu kemudian hilang begitu saja. Pernah suka menulis, hampir setiap hari update blog, tapi tiba-tiba berhenti dan merasa jenuh yang membuat lama tidak kembali. Akhirnya muncul satu kesimpulan yang terasa cukup menyebalkan: mungkin saya memang tidak punya bakat. Tapi belakang ini saya juga mulai mempertanyakan hal itu. Bagaimana kalau sebenarnya saya tidak punya bakat. Tapi karena saya terlalu berharap menemukan sesuatu yang langsung terasa “ini saya banget”? Saya seperti menunggu rasa cocok yang instan. Kalau di awal terasa seru, saya lanjut. Tapi begitu mulai terasa biasa saja, saya anggap itu bukan untuk saya. Padahal, mungkin memang tidak ada hal yang langsung terasa cocok sepenuhnya sejak awal. Bisa jadi, rasa “cocok” itu justru muncul setelah dijalani cukup lama. Setelah melewati fase bosan, fase ragu dan fase ingin berhenti. Selama ini saya mungkin terlalu cepat meny...

Hari Pertama Kerja…

Hari ini adalah hari pertama saya kerja setelah 2 tahun menganggur, dan pekerjaan itu adalah sebagai trainee di sebuah PT yang bergerak di bidang pembuatan wig. Jujur, dari awal saya sudah merasa campur aduk—senang karena akhirnya dapat kesempatan kerja, tapi juga takut karena ini benar-benar hal baru buat saya. Saya datang dengan harapan sederhana: bisa belajar pelan-pelan, kenal lingkungan baru, dan mencoba bertahan. I just wanted to do my best , itu saja. Saya sadar saya belum punya pengalaman di bidang ini. Tapi dalam pikiran saya, semua orang juga pasti pernah jadi pemula, kan? Jadi saya tetap mencoba untuk positif. Maybe I can learn step by step. Di awal masuk, saya dikenalkan dengan proses kerja. Dilihat sekilas, memang terlihat seperti pekerjaan yang “bisa dipelajari”. Tapi setelah mulai mencoba sendiri… ternyata nggak semudah itu. Pekerjaan ini butuh ketelitian yang tinggi, fokus yang terus-terusan, dan tangan yang sudah terbiasa. Sementara saya? Masih kaku, masih bingung, mas...

Life After Lebaran: Ketika Euforia Usai, Hidup Kembali Berjalan

Lebaran selalu datang dengan rasa yang hangat—rumah yang ramai, meja makan penuh, dan hati yang terasa lebih ringan setelah saling memaafkan. Ada tawa, ada cerita, dan ada momen-momen kecil yang diam-diam ingin kita simpan lebih lama. Tapi seperti semua hal baik, Lebaran pun berlalu. Dan di situlah “life after Lebaran” dimulai. Hari-hari setelahnya terasa sedikit berbeda. Rumah kembali sepi, notifikasi ucapan mulai berkurang, dan rutinitas perlahan mengetuk lagi pintu kehidupan. Bangun pagi bukan lagi untuk silaturahmi, tapi untuk kembali ke tanggung jawab. Rasanya seperti ditarik pelan dari suasana hangat ke realita yang lebih tenang—bahkan kadang terasa kosong.  Mungkin yang paling terasa adalah kehilangan momen kebersamaan. Saat semua orang kembali ke aktivitas masing-masing, ada rindu kecil yang tertinggal. Rindu suara ramai di ruang tamu, rindu obrolan ringan tanpa tujuan, atau sekadar rindu makan bersama tanpa terburu-buru. Namun, di balik itu semua, life after Lebaran sebena...

Carpe Diem: Makna Mendalam yang Mengubah Cara Saya Melihat Hidup (Refleksi dari Dead Poets Society)

Ada satu kalimat yang masih saya ingat setelah menonton Dead Poets Society yaitu carpe diem . Dari kalimat sesingkat itu, ternyata bisa merubah cara berpikir saya, bahkan perlahan mengubah cara hidup saya dalam melihat segala sesuatu. Jujur saja, awalnya saya tidak merasa akan mendapatkan sesuatu yang “besar” dari film itu. Saya menontonnya seperti menonton film lainnya—mendapat rekomendasi tontonan dari reels Instagram, kemudian menonton untuk sekadar mengisi waktu. Tapi setelah selesai, ada perasaan yang sulit dijelaskan. Bukan sedih, bukan juga bahagia. Lebih seperti… tersadar. Seolah ada sesuatu yang selama ini saya abaikan, lalu tiba-tiba ditunjukkan begitu saja, tanpa dipaksa.  Carpe diem. Seize the day. Kalimat itu terdengar sederhana, bahkan mungkin terlalu sederhana. Tapi justru karena kesederhanaannya, kalimat itu terasa jujur. Tidak berlebihan, tidak rumit, tapi langsung mengenai sesuatu yang selama ini saya hindari untuk dipikirkan. Saya mulai bertanya ke diri sendiri, ...

Refleksi Akhir Ramadan: Belajar Bersyukur di Tengah Tekanan Hidup dan Perjalanan Mencari Arah

Tidak terasa, Ramadan sudah sampai di ujungnya. Rasanya seperti baru kemarin kita memulai puasa di hari pertama, masih menyesuaikan ritme bangun sahur, menahan lapar, dan menunggu waktu berbuka. Sekarang, tahu-tahu tinggal satu hari lagi sebelum akhirnya kita sampai di Hari Raya. Jujur saja, menjelang Lebaran tahun ini perasaan saya cukup campur aduk. Di satu sisi, ada rasa senang karena berhasil melewati satu bulan Ramadhan. Ada rasa haru juga karena seperti biasa, Ramadan selalu terasa terlalu cepat berlalu. Tapi di sisi lain, ada juga rasa tekanan yang cukup besar yang saya rasakan secara pribadi. Saya belum punya pekerjaan. Dan mungkin banyak orang yang menganggap hal seperti ini sepele untuk dibicarakan, tapi kenyataannya tidak sesederhana itu. Ketika momen Lebaran semakin dekat, biasanya pertanyaan-pertanyaan klasik mulai bermunculan di kepala: “Kerja di mana sekarang?”, “Sudah dapat kerja belum?”, atau “Sekarang sibuk apa?” Bahkan sebelum orang lain menanyakan itu, kadang kita s...