Refleksi Akhir Ramadan: Belajar Bersyukur di Tengah Tekanan Hidup dan Perjalanan Mencari Arah

Tidak terasa, Ramadan sudah sampai di ujungnya. Rasanya seperti baru kemarin kita memulai puasa di hari pertama, masih menyesuaikan ritme bangun sahur, menahan lapar, dan menunggu waktu berbuka. Sekarang, tahu-tahu tinggal satu hari lagi sebelum akhirnya kita sampai di Hari Raya.

Jujur saja, menjelang Lebaran tahun ini perasaan saya cukup campur aduk.
Di satu sisi, ada rasa senang karena berhasil melewati satu bulan Ramadhan. Ada rasa haru juga karena seperti biasa, Ramadan selalu terasa terlalu cepat berlalu. Tapi di sisi lain, ada juga rasa tekanan yang cukup besar yang saya rasakan secara pribadi.
Saya belum punya pekerjaan.
Dan mungkin banyak orang yang menganggap hal seperti ini sepele untuk dibicarakan, tapi kenyataannya tidak sesederhana itu. Ketika momen Lebaran semakin dekat, biasanya pertanyaan-pertanyaan klasik mulai bermunculan di kepala: “Kerja di mana sekarang?”, “Sudah dapat kerja belum?”, atau “Sekarang sibuk apa?”
Bahkan sebelum orang lain menanyakan itu, kadang kita sudah lebih dulu menanyakannya kepada diri sendiri.
Dan itu yang membuat tekanan terasa lebih besar.
Kadang saya sendiri cuma bisa tertawa saja. Seperti yang saya tulis di awal: jujur saya belum siap. Apalagi dengan kondisi masih menganggur seperti sekarang. Rasanya seperti ada tekanan yang datang dari berbagai arah. Dari keadaan, dari lingkungan, bahkan dari pikiran sendiri.
Tapi di tengah semua perasaan itu, saya juga mencoba melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.
Kalau saya melihat ke belakang, sebenarnya ada banyak perubahan yang terjadi dalam diri saya beberapa bulan terakhir. Perubahan yang mungkin dulu tidak pernah saya bayangkan akan saya lakukan.
Salah satunya adalah mulai menulis blog dengan lebih serius.
Dulu, menulis hanya sebatas aktivitas yang kadang-kadang saya lakukan ketika sedang ingin saja. Tidak ada konsistensi, tidak ada tujuan yang jelas. Tapi belakangan ini, saya mulai menikmati proses menulis. Rasanya seperti menemukan ruang baru untuk mengekspresikan pikiran, keresahan, dan pengalaman pribadi.
Menulis blog membuat saya merasa punya tempat untuk bercerita.
Bukan sekadar menulis artikel, tapi benar-benar menuangkan isi kepala. Kadang tentang hal yang saya rasakan, kadang tentang fenomena yang sedang terjadi, dan kadang hanya tentang refleksi sederhana dari kehidupan sehari-hari.
Selain itu, ada satu hal lain yang juga cukup mengejutkan bagi diri saya sendiri.
Saya mulai berani membuat konten.
Dan yang lebih mengejutkan lagi, saya mulai berani tampil dengan wajah saya sendiri di dalam konten tersebut.
Kalau ada orang yang mengenal saya beberapa tahun lalu, mungkin mereka tidak akan percaya. Karena dulu, tampil di depan kamera adalah salah satu hal yang paling saya hindari. Bahkan untuk sekadar merekam video diri sendiri saja rasanya sudah sangat canggung.
Kamera terasa seperti sesuatu yang menakutkan.
Ada rasa takut dinilai, takut terlihat aneh, takut dianggap tidak pantas, dan banyak ketakutan lain yang sebenarnya lebih banyak berasal dari pikiran saya sendiri.
Tapi entah kenapa, akhir-akhir ini rasa takut itu mulai berkurang.
Bukan berarti tiba-tiba saya menjadi orang yang sangat percaya diri. Tidak juga. Kadang rasa canggung itu masih muncul. Kadang masih ada pikiran seperti “video ini bagus nggak ya?” atau “orang-orang bakal menilai apa?”
Namun sekarang saya mencoba untuk tidak terlalu memikirkan semuanya secara berlebihan.
Saya hanya mencoba melakukannya saja.
Membuat konten, merekam video reaction, berbicara di depan kamera, lalu mengunggahnya. Sesuatu yang dulu bahkan tidak pernah saya bayangkan akan saya lakukan dalam hidup saya.
Kalau dipikir-pikir, mungkin inilah salah satu hal baik yang muncul dari masa-masa yang terasa tidak pasti seperti sekarang.
Ketika hidup tidak berjalan sesuai rencana, kadang kita justru menemukan sisi lain dari diri kita yang sebelumnya tidak pernah kita eksplorasi.
Mungkin kalau saya sedang sibuk dengan pekerjaan yang sangat padat, saya tidak akan pernah mencoba menulis blog secara konsisten. Saya juga mungkin tidak akan pernah memberanikan diri membuat konten dan mengunggahnya ke internet.
Karena biasanya kita terlalu sibuk menjalani rutinitas.
Makanya, meskipun ada tekanan dan rasa tidak nyaman karena belum memiliki pekerjaan, saya juga mencoba melihat masa ini sebagai proses.
Proses mengenal diri sendiri.
Proses mencoba hal-hal baru.
Dan proses belajar menerima keadaan apa adanya.
Ramadan tahun ini mungkin tidak datang dengan kondisi hidup yang sempurna bagi saya. Tapi justru dari situ saya belajar satu hal penting: rasa syukur tidak selalu datang dari keadaan yang ideal.
Kadang rasa syukur muncul ketika kita mulai menyadari bahwa meskipun hidup belum sesuai harapan, masih ada banyak hal kecil yang tetap berjalan dengan baik.
Saya masih bisa menulis.
Saya masih punya ide untuk membuat konten.
Saya masih punya keberanian untuk mencoba hal-hal yang dulu terasa mustahil.
Dan mungkin, itu sudah menjadi langkah kecil yang cukup berarti.
Menjelang Hari Raya, saya tidak punya resolusi besar yang dramatis. Tidak ada target yang muluk-muluk. Yang saya harapkan sebenarnya cukup sederhana.
Saya hanya ingin terus melangkah.
Terus menulis.
Terus membuat konten.
Terus mencoba hal-hal baru tanpa terlalu takut dengan penilaian orang lain.
Karena siapa tahu, dari langkah-langkah kecil yang terlihat sederhana ini, suatu hari nanti akan muncul jalan yang tidak pernah saya duga sebelumnya.
Jadi kalau saat ini ada yang merasa hidupnya belum sesuai dengan ekspektasi, mungkin kita sedang berada di fase yang sama.
Fase di mana semuanya terasa tidak pasti.
Fase di mana kita masih mencari arah.
Dan mungkin juga fase di mana kita sedang belajar menerima diri sendiri apa adanya.
Besok mungkin sudah Hari Raya. Orang-orang akan merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa.
Saya sendiri juga tidak tahu seperti apa perjalanan hidup saya setelah ini.
Tapi satu hal yang ingin saya pegang adalah ini:

Tidak apa-apa kalau jalannya sedikit lebih lambat.
Tidak apa-apa kalau hidup belum terlihat “berhasil” di mata orang lain.
Yang penting kita tetap bergerak, sekecil apa pun langkahnya.
Dan untuk sekarang, saya rasa itu sudah cukup.
Selamat menyambut Hari Raya. Semoga setelah Ramadan ini, kita semua diberikan kekuatan untuk melanjutkan perjalanan hidup dengan hati yang lebih tenang. 
Dan mohon maaf karena mungkin blog ini akan diunggah sangat terlambat. semuanya salam dari saya dan keluarga... sukses dan sehat selalu.

Komentar

Postingan Populer