Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Opinion

Orang Desa Tidak Pakai Dolar”? Pernyataan Ini Sederhana, Tapi Mengabaikan Realita Ekonomi yang Lebih Besar

Eehh ada yang lagi rame nggak siih?? Tentang “orang desa tidak memakai dolar” jujur heran banget pernyataan se-enggak masuk akal itu keluar dari mulut seorang presiden. Sekarang saya mau mencoba untuk memberi opini yang mungkin setelah tulisan ini ada yang tidak setuju, terutama bagi pendukung pemerintah atau pendukung Prabowo Subianto. Dan itu wajar, karena setiap orang punya sudut pandang berbeda. Tapi menurut saya, ketika seorang presiden mengeluarkan pernyataan yang terasa tidak masuk akal bagi sebagian rakyat, masyarakat juga berhak mempertanyakan. Bukan karena membenci negaranya, bukan juga karena tidak menghormati pemimpin, tapi karena ucapan seorang presiden punya pengaruh besar dan bisa membentuk cara berpikir banyak orang. Oke gas aja yaaa kita kulik bareng. Pernyataan dari Prabowo Subianto yang menyebut bahwa “orang desa tidak memakai dolar” kembali memicu perdebatan publik. Secara permukaan, kalimat ini terdengar masuk akal. Memang benar, masyarakat desa tidak bertransaksi...

Capek Tapi Nggak Ngapa-Ngapain..

Kamu pernah nggak… Bangun tidur – buka HP Niat cuma sebentar – jadi sejam Pindah ke aplikasi lain – tambah lama Tahu-tahu udah siang Tapi anehnya, bukan santai… Malah capek. Dan bagian paling ngeselin? Kamu juga ngerasa bersalah, karena “nggak produktif” Kalau kamu pernah ngerasain ini, kamu nggak sendiri. Kenapa ya?   Sebenarnya bukan karena malas tapi karena masalahnya: otak kamu nggak pernah berhenti, dari bangun tidur, kamu langsung disambut: Notifikasi Video pendek Berita Chat Konten random yang nggak kamu cari Semua kelihatan ringan tapi buat otak? Itu kerja terus. Bayangin kamu makan terus seharian tanpa berhenti.  Bukan kenyang enak – yang ada malah eneg. Kurang lebih kayak gitu yang terjadi di otak kamu. Belum lagi efek “nunda tapi kepikiran” Kamu punya tugas. Tapi kamu tunda. Masalahnya, otak kamu nggak ikut “nunda” Dia tetap ingat. Jadi walaupun kamu lagi scroll, di belakang pikiran kamu ada suara kecil: “Harusnya saya ngerjain ini..” Itu bikin capek, diam-diam. Kam...

Punya Bakat tapi Setengah-Setengah

Saya sering berpikir, kenapa saya gampang sekali bosan sama sesuatu. Pernah semangat bikin konten, tapi beberapa waktu kemudian hilang begitu saja. Pernah suka menulis, hampir setiap hari update blog, tapi tiba-tiba berhenti dan merasa jenuh yang membuat lama tidak kembali. Akhirnya muncul satu kesimpulan yang terasa cukup menyebalkan: mungkin saya memang tidak punya bakat. Tapi belakang ini saya juga mulai mempertanyakan hal itu. Bagaimana kalau sebenarnya saya tidak punya bakat. Tapi karena saya terlalu berharap menemukan sesuatu yang langsung terasa “ini saya banget”? Saya seperti menunggu rasa cocok yang instan. Kalau di awal terasa seru, saya lanjut. Tapi begitu mulai terasa biasa saja, saya anggap itu bukan untuk saya. Padahal, mungkin memang tidak ada hal yang langsung terasa cocok sepenuhnya sejak awal. Bisa jadi, rasa “cocok” itu justru muncul setelah dijalani cukup lama. Setelah melewati fase bosan, fase ragu dan fase ingin berhenti. Selama ini saya mungkin terlalu cepat meny...

Playlist Mendung Tapi Hangat: Lagu-Lagu yang Temani Hari yang Aneh Tapi Nyaman

Ada jenis cuaca yang sulit dijelaskan. Bukan hujan, tapi mendung. Bukan sejuk, masih ada sedikit panas. Udara terasa diam, langit seperti menahan sesuatu, dan suasana jadi… menggantung. Hari seperti ini biasanya bikin pikiran ikut ke mana-mana. Nggak sepenuhnya sedih, tapi juga nggak benar-benar tenang. Dan entah kenapa, di kondisi seperti ini, musik selalu jadi teman paling pas. Bukan untuk mengubah suasana, tapi untuk menemani. Seolah lagu-lagu tertentu bisa mengisi ruang kosong yang nggak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Hari ini, saya mencoba merangkai beberapa lagu yang rasanya cocok untuk suasana “mendung tapi hangat” seperti ini. Lagu-lagu yang tidak terlalu berat, tapi tetap punya rasa. Tidak terlalu cerah, tapi juga tidak membuat tenggelam sepenuhnya. Playlist kecil ini mungkin sederhana, tapi setiap lagunya punya tempat. Awal yang Lembut, Seperti Langit yang Belum Jatuh Hujan Saya mulai dari lagu LISA – “Dream” . Cocok untuk pembuka, seperti saat kita hanya duduk diam meliha...

“Politik Nggak Ngaruh?” — Coba Lihat Lagi Saat Rupiah Melemah

Saya masih ingat, beberapa waktu lalu—atau mungkin cukup sering—ada kalimat yang terdengar santai tapi sebenarnya cukup mengganggu kalau dipikir ulang: “Ah, politik itu nggak ngaruh ke kehidupan saya.” Dulu, mungkin saya juga tidak terlalu mempermasalahkan kalimat itu. Kedengarannya ringan, seperti bentuk kelelahan terhadap hal-hal yang terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Politik dianggap urusan orang atas, urusan pejabat, urusan yang terlalu rumit untuk dipikirkan. Kita hanya ingin hidup tenang. Kerja, makan, istirahat. Selesai. Tapi sekarang, saya mulai merasa kalimat itu tidak lagi relevan. Atau mungkin sejak awal memang tidak pernah benar. Coba lihat keadaan sekarang. Nilai tukar rupiah terhadap dolar terus merangkak naik. Dalam waktu sekitar dua tahun, angkanya sudah menyentuh kisaran 17 ribu rupiah. Buat sebagian orang, ini mungkin cuma angka. Grafik ekonomi. Sesuatu yang hanya dibahas di berita. Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu. Angka itu pelan-pelan merembes ke kehid...

Program Makan Bergizi Gratis: Dari Keracunan Siswa Sampai Menu yang Itu-Itu Saja

  Akhir-akhir ini saya sering membaca berita, melihat video, dan mendengar cerita langsung tentang program Makan Bergizi Gratis (MBG) . Program yang menjadi salah satu kebijakan besar dari pemerintahan Prabowo Subianto di Indonesia ini awalnya terdengar sangat menjanjikan. Siapa yang tidak setuju jika anak-anak sekolah mendapatkan makanan bergizi setiap hari? Ide itu bagus. Bahkan sangat bagus. Memberikan makanan bergizi untuk siswa seharusnya bisa membantu mereka lebih fokus belajar, tumbuh lebih sehat, dan mengurangi masalah kekurangan gizi. Tapi setelah program ini mulai berjalan di beberapa tempat, jujur saja, saya mulai merasa resah . Bukan karena saya tidak ingin program ini berhasil. Justru saya sangat ingin program ini berhasil. Namun semakin banyak cerita yang muncul, semakin banyak juga pertanyaan yang muncul di kepala saya. Dan sayangnya, sebagian dari cerita itu justru terasa jauh dari kata “bergizi”. Ketika Program Bergizi Justru Berujung Keracunan Hal pertama yang mem...