Kemarin sempat ramai sebuah tweet dari seseorang yang kurang lebih isinya mengatakan bahwa banyak pengangguran itu malas, tidak mau berusaha, dan hanya mengeluh tanpa melakukan apa-apa. Mungkin bagi sebagian orang itu hanya sebuah opini di media sosial yang lewat begitu saja. Namun jujur, sebagai seorang pengangguran, tulisan itu cukup mengena di hati saya.
Bukan karena saya merasa tersindir, tetapi karena saya merasa tidak dipahami.
Setiap hari saya bangun dengan beban yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain. Dari luar, mungkin yang tampak hanyalah seseorang yang belum bekerja. Sesederhana itu. Namun yang tidak terlihat adalah perjuangan yang terjadi setiap hari di balik layar.
Setiap pagi saya harus menguatkan mental terlebih dahulu sebelum membuka laptop atau ponsel. Saya harus mempersiapkan diri untuk kembali melakukan rutinitas yang sama. Memperbarui CV. Mencari lowongan baru. Membaca persyaratan yang kadang membuat minder. Mengirim lamaran ke berbagai perusahaan. Mengikuti psikotes. Menunggu kabar. Berharap. Lalu sering kali menerima kenyataan bahwa hasilnya masih sama: belum ada panggilan, belum ada kesempatan, belum ada pekerjaan.
Besoknya saya mengulang lagi.
Dan begitu terus.
Kalau dipikir-pikir, lucu juga ya. Banyak orang menganggap pengangguran itu tidak melakukan apa-apa. Padahal ada banyak pengangguran yang setiap hari bekerja keras untuk mendapatkan pekerjaan.
Hanya saja, kerja keras itu tidak menghasilkan gaji sehingga sering dianggap tidak ada nilainya.
Yang membuat saya sedih bukan hanya isi tweet tersebut, tetapi cara sebagian orang dengan mudah menghakimi kehidupan orang lain berdasarkan pengalaman hidup mereka sendiri.
Kenapa sih orang-orang susah sekali memahami bahwa hidup mereka bukan standar hidup semua manusia?
Hanya karena seseorang bisa bangkit dengan mudah setelah gagal, bukan berarti semua orang memiliki kemampuan yang sama.
Hanya karena seseorang bisa mencoba usaha berkali-kali, bukan berarti semua orang memiliki modal yang sama.
Hanya karena seseorang berani mengambil risiko besar, bukan berarti semua orang memiliki jaring pengaman yang sama ketika jatuh.
Banyak orang lahir dan tumbuh dengan privilese yang bahkan mungkin tidak mereka sadari.
Ada yang memiliki keluarga dengan kondisi ekonomi yang stabil.
Ada yang punya tabungan.
Ada yang punya koneksi.
Ada yang punya orang tua yang selalu siap membantu jika terjadi kegagalan.
Ada yang punya lingkungan yang mendukung.
Dan semua itu adalah hal yang sangat berharga.
Sementara di sisi lain, ada orang-orang yang hidup dengan kondisi yang berbeda.
Kami tidak punya banyak cadangan.
Kami tidak punya banyak pilihan.
Kami tidak punya banyak kesempatan untuk gagal.
Karena sekali kami jatuh, kami benar-benar jatuh.
Ketika orang lain berkata, "Yaudah coba aja dulu."
Kadang kami harus berpikir berkali-kali.
Karena "coba aja dulu" bagi kami bisa berarti mengeluarkan tabungan terakhir.
Bisa berarti meminjam uang.
Bisa berarti mempertaruhkan sesuatu yang tidak bisa diganti lagi.
Orang yang memiliki banyak pegangan mungkin melihat kegagalan sebagai pelajaran.
Sementara orang yang tidak memiliki pegangan sering kali melihat kegagalan sebagai ancaman yang nyata.
Bukan karena kami pesimis.
Bukan karena kami malas.
Tetapi karena kami memahami konsekuensi yang harus ditanggung.
Saya rasa banyak orang yang tidak pernah merasakan fase menganggur dalam waktu yang cukup lama tidak memahami betapa beratnya perjuangan mental yang harus dijalani.
Menganggur bukan hanya tentang tidak bekerja.
Menganggur adalah tentang menghadapi pertanyaan yang sama setiap hari.
"Sudah dapat kerja belum?"
"Masa belum kerja juga?"
"Teman-temanmu sudah pada kerja semua."
"Kapan mau mulai menghasilkan uang?"
Mungkin orang yang bertanya tidak berniat jahat.
Tetapi ketika pertanyaan yang sama terus datang sementara kita sendiri sedang berusaha sekuat tenaga, rasanya melelahkan.
Lalu ada media sosial.
Tempat di mana semua orang terlihat sedang berhasil.
Ada yang diterima kerja.
Ada yang naik jabatan.
Ada yang membuka usaha.
Ada yang membeli kendaraan baru.
Ada yang menikah.
Ada yang membangun rumah.
Sementara kita masih duduk di depan layar, mengirim lamaran yang belum tentu dibaca.
Kadang muncul pertanyaan yang menyakitkan.
"Apa saya kurang berusaha?"
"Apa saya tidak cukup pintar?"
"Apa ada yang salah dengan saya?"
Padahal kenyataannya, tidak semua hal dalam hidup ditentukan oleh usaha semata.
Ada faktor kesempatan.
Ada faktor kondisi ekonomi.
Ada faktor kebutuhan perusahaan.
Ada faktor keberuntungan.
Ada banyak hal yang berada di luar kendali kita.
Tetapi karena terlalu sering mendengar bahwa kesuksesan hanya soal kerja keras, banyak pengangguran akhirnya menyalahkan dirinya sendiri atas sesuatu yang sebenarnya lebih kompleks.
Yang paling menyakitkan mungkin adalah ketika perjuangan yang sudah dilakukan dianggap tidak ada.
Orang hanya melihat hasil.
Kalau belum bekerja, berarti dianggap tidak berusaha.
Kalau belum berhasil, berarti dianggap kurang niat.
Kalau belum menghasilkan uang, berarti dianggap malas.
Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Saya mengenal banyak orang yang menganggur tetapi tetap berjuang setiap hari.
Mereka terus mengirim lamaran.
Mereka belajar keterampilan baru.
Mereka mengikuti pelatihan gratis.
Mereka mencoba berbagai peluang.
Mereka berusaha bertahan meskipun berkali-kali ditolak.
Sayangnya perjuangan seperti itu jarang terlihat.
Karena tidak ada foto yang bisa diunggah.
Tidak ada sertifikat yang langsung mengubah keadaan.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada pengakuan.
Yang ada hanya perjuangan diam-diam yang dilakukan sendirian.
Karena itulah saya berharap orang-orang bisa lebih berhati-hati ketika berbicara tentang pengangguran.
Tidak semua pengangguran itu malas.
Tidak semua pengangguran hanya rebahan seharian.
Tidak semua pengangguran menunggu keajaiban datang begitu saja.
Sebagian dari mereka sedang berjuang mati-matian untuk bertahan.
Sebagian dari mereka sedang berusaha menjaga kewarasan di tengah tekanan hidup.
Sebagian dari mereka sedang mencoba bangun setiap pagi meskipun semangatnya sudah berkali-kali hancur.
Dan sebagian dari mereka hanya membutuhkan sedikit empati, bukan penghakiman.
Hari ini saya masih seorang pengangguran.
Saya belum bisa menunjukkan kartu identitas karyawan.
Saya belum bisa membanggakan jabatan tertentu.
Saya belum bisa mengatakan bahwa saya sudah berhasil.
Tetapi satu hal yang saya tahu, saya tidak malas.
Saya sedang berusaha.
Mungkin hasilnya belum terlihat.
Mungkin jalannya lebih panjang dari yang saya harapkan.
Mungkin prosesnya lebih berat dari yang dibayangkan orang lain.
Namun setiap CV yang saya perbarui, setiap lamaran yang saya kirim, setiap psikotes yang saya kerjakan adalah bukti bahwa saya masih berjuang.
Dan selama saya masih mencoba, saya percaya bahwa perjuangan ini belum selesai.
Untuk semua orang yang sedang berada di fase yang sama, saya ingin mengatakan satu hal:
Saya tahu rasanya lelah.
Saya tahu rasanya kecewa.
Saya tahu rasanya melihat orang lain melangkah jauh sementara kita masih berdiri di tempat yang sama.
Tetapi semoga kita tidak menyerah.
Karena meskipun dunia hanya melihat status "pengangguran", kita tahu ada perjuangan besar yang sedang terjadi di dalam diri kita setiap hari.
Dan itu bukan sesuatu yang memalukan.
Itu adalah bukti bahwa kita masih bertahan.





Komentar
Posting Komentar