Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Mental Health

Menjaga Kesehatan Mental dan Fisik di Tengah Keadaan Hidup yang Tidak Selalu Mudah

Ngomong-ngomong tentang depresi dan anxiety, mungkin saya tidak berada di posisi untuk mengatakan bahwa saya mengalami keduanya. Saya juga tidak ingin mendiagnosis kesehatan mental saya sendiri tanpa adanya bukti yang jelas atau pemeriksaan dari tenaga profesional. Menurut saya, memberikan label pada diri sendiri tanpa pemahaman yang cukup justru bisa membuat kita salah menilai kondisi yang sebenarnya. Namun, jika melihat keadaan hidup saya saat ini, saya menyadari bahwa ada banyak tantangan yang harus dihadapi. Ada hari-hari ketika pikiran terasa penuh, ada saat-saat ketika rasa lelah tidak hanya datang dari aktivitas fisik, tetapi juga dari tekanan yang muncul karena berbagai masalah dan ketidakpastian hidup. Dalam kondisi seperti itu, saya berusaha untuk tetap menjaga kesehatan saya, baik secara mental maupun fisik. Saya percaya bahwa menjaga kesehatan bukan hanya tentang menghindari penyakit. Kesehatan adalah bagaimana kita tetap mampu menjalani hari, berpikir dengan jernih, mengel...

Antara Masa Depan dan Masa Lalu

Saya waktu itu sempat melihat dan menonton sebuah klip video dari Dr. Gia. Kalau tidak salah Beliau menyampaikan seperti ini: “Orang yang anxiety selalu khawatir memikirkan masa depannya, sedangkan orang yang depresi masih belum bisa melepaskan masa lalunya." Kalimat itu terdengar sederhana. Saat mendengarnya, banyak orang langsung merasa terwakili. Ada yang merasa hidupnya dipenuhi kekhawatiran tentang apa yang akan terjadi besok. Ada juga yang merasa dirinya masih terjebak dalam kenangan, penyesalan, kehilangan, atau luka yang terjadi bertahun-tahun lalu. Meski kenyataannya anxiety dan depresi jauh lebih kompleks daripada satu kalimat tersebut, ada sesuatu yang menyentuh dari pesan di baliknya. Manusia memang sering hidup di dua tempat yang sebenarnya tidak bisa kita tinggali. Masa lalu. Dan masa depan. Padahal satu-satunya tempat kita benar-benar berada adalah hari ini. Ketika Masa Depan Terasa Menakutkan Orang yang sering cemas biasanya bukan karena mereka lemah. Justru sering...

Tidak Semua Pengangguran Itu Malas

Kemarin sempat ramai sebuah tweet dari seseorang yang kurang lebih isinya mengatakan bahwa banyak pengangguran itu malas, tidak mau berusaha, dan hanya mengeluh tanpa melakukan apa-apa. Mungkin bagi sebagian orang itu hanya sebuah opini di media sosial yang lewat begitu saja. Namun jujur, sebagai seorang pengangguran, tulisan itu cukup mengena di hati saya. Bukan karena saya merasa tersindir, tetapi karena saya merasa tidak dipahami. Setiap hari saya bangun dengan beban yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain. Dari luar, mungkin yang tampak hanyalah seseorang yang belum bekerja. Sesederhana itu. Namun yang tidak terlihat adalah perjuangan yang terjadi setiap hari di balik layar. Setiap pagi saya harus menguatkan mental terlebih dahulu sebelum membuka laptop atau ponsel. Saya harus mempersiapkan diri untuk kembali melakukan rutinitas yang sama. Memperbarui CV. Mencari lowongan baru. Membaca persyaratan yang kadang membuat minder. Mengirim lamaran ke berbagai perusahaan. Mengikuti ps...

Quarter-Life Crisis di Usia 25: Ketika Kehilangan Arah, Motivasi, dan Tujuan Hidup

Kalau ada yang bertanya bagaimana rasanya berada di usia 20-an menuju 25 tahun, mungkin saya akan menjawab: membingungkan. Dulu saya membayangkan usia 25 adalah usia di mana semuanya sudah jelas. Punya pekerjaan yang stabil, tabungan yang cukup, tujuan hidup yang pasti, dan tahu harus melangkah ke mana. Tapi kenyataannya tidak seperti itu. Semakin mendekati usia 25, justru semakin banyak pertanyaan yang muncul di kepala. Tentang masa depan, karier, keuangan, hubungan, dan tentang diri sendiri. Kadang saya merasa seperti sedang berlari, tapi tidak tahu ke mana tujuan akhirnya. Welcome to quarter-life crisis. Fase ini sering digambarkan sebagai masa ketika seseorang mulai mempertanyakan hampir semua hal dalam hidupnya. Dan jujur saja, saya sedang berada di fase itu sekarang. Ada hari-hari ketika saya bangun dengan semangat. Tapi ada juga malam-malam ketika saya merasa begitu lelah dengan semuanya. Bukan hanya lelah secara fisik, tetapi lelah karena terus memikirkan masa depan yang belum ...

Quarter-Life Crisis

Hai, dipikir-pikir sekarang jarang banget ya saya update blog baru.  Dulu rasanya hampir setiap hari selalu ada tulisan yang bisa dipublikasikan. Entah itu cerita sehari-hari, opini sederhana, atau sekadar berbagi hal random yang sedang ada di pikiran. Menulis terasa begitu mudah dan mengalir. Tapi akhir-akhir ini, jujur saja, sebulan dua kali update blog pun sudah terasa melelahkan. Bukan karena tidak punya waktu sepenuhnya, melainkan karena rasanya ada sesuatu yang hilang. The spark is gone. Belakangan saya sadar kalau mungkin saya sedang mengalami quarter-life crisis. Fase di mana kita mulai mempertanyakan banyak hal dalam hidup. Tentang tujuan, pekerjaan, masa depan, pencapaian, bahkan tentang diri sendiri. Kadang bangun pagi dengan perasaan bingung harus melangkah ke mana, padahal usia terus berjalan. Saya merasa kehilangan arah, kehilangan semangat, dan kehilangan minat terhadap hal-hal yang dulu sangat saya sukai. Menulis blog adalah salah satunya. Dulu membuka laptop dan me...

5 Stages of Grief: Memahami Proses Kehilangan yang Tidak Pernah Benar-Benar Linear

Kehilangan adalah pengalaman yang hampir pasti dialami setiap manusia. Kehilangan orang yang dicintai, kehilangan hubungan, pekerjaan, mimpi, bahkan versi diri kita yang dulu. Dalam prosesnya, banyak orang merasa bingung dengan emosi yang datang silih berganti: sedih, marah, kosong, menyangkal, lalu tiba-tiba merasa “baik-baik saja” dan merasa bersalah karenanya. Di sinilah konsep 5 stages of grief menjadi relevan. Teori 5 stages of grief pertama kali diperkenalkan oleh Elisabeth Kübler-Ross. Awalnya teori ini digunakan untuk memahami proses emosional pasien dengan penyakit terminal, namun seiring waktu, konsep ini juga dipakai untuk menjelaskan berbagai bentuk kehilangan dalam hidup. Penting untuk dipahami sejak awal: tahapan ini tidak selalu berurutan dan tidak semua orang mengalaminya dengan cara yang sama . 1. Denial (Penolakan) Tahap pertama dari 5 stages of grief adalah denial atau penolakan. Pada fase ini, seseorang cenderung menolak kenyataan yang terjadi. Pikiran seperti “...

Kembalilah kepada Allah, meskipun kamu telah berdosa seribu kali

Menurut saya, salah satu kebohongan paling menyakitkan yang sering kita percaya adalah anggapan bahwa ada titik di mana Allah berhenti menerima kita. Bahwa setelah terlalu banyak kesalahan, terlalu banyak janji yang dilanggar, dan terlalu sering jatuh pada dosa yang sama, kita seolah melewati batas tak terlihat dan menjadi tidak pantas untuk kembali. Saya tidak percaya batas itu benar-benar ada. Saya pikir kitalah yang menciptakannya sendiri, dari rasa bersalah dan malu. Kita berbuat dosa, menyesal, berjanji akan berubah, lalu terkadang gagal lagi. Saat itu terjadi, banyak dari kita tidak lari kembali kepada Allah, justru menjauh. Bukan karena Allah menolak kita, tetapi karena kita sudah lebih dulu berasumsi akan ditolak. Dan menurut saya, asumsi itu adalah salah satu cara paling halus bagaimana iman perlahan melemah—bukan karena pembangkangan, melainkan karena kelelahan dan menyalahkan diri sendiri. Sejujurnya, saya percaya keputusasaan lebih berbahaya daripada dosa itu sendiri. Orang...

Child Grooming di Indonesia: Isu Penting yang Masih Sulit Dibicarakan

Saya sering bertanya pada diri saya sendiri, kenapa setiap kali saya mencoba membicarakan child grooming, suasananya langsung berubah. Nada bicara orang-orang jadi kaku, topiknya cepat dialihkan, atau malah dibalas dengan candaan. Seolah-olah saya baru saja membuka sesuatu yang seharusnya tetap tertutup. Bukan karena mereka tidak peduli, tapi karena banyak orang tidak merasa topik ini ada hubungannya dengan hidup mereka. Saya sering mendengar kalimat seperti, “Di lingkungan kita nggak mungkin,” atau “Anak-anak di sini aman-aman saja.” Kalimat-kalimat itu terdengar menenangkan, tapi justru di situlah saya merasa ada masalah besar. Dari yang saya lihat dan rasakan, child grooming di Indonesia sulit dijelaskan karena bentuknya tidak sesuai dengan bayangan kebanyakan orang tentang kejahatan. Kita terbiasa menganggap bahaya itu kasar, keras, dan terlihat jelas. Sementara grooming justru lebih lembut, pelan, dan sering kali dibungkus dengan perhatian. Saya pernah melihat bagaimana perhatian ...

🌙Rutinitas Malam Versi Aku

Setelah seharian beraktivitas, malam jadi waktu yang paling saya tunggu. Saat suasana mulai tenang dan udara terasa lebih sejuk, saya merasa bisa benar-benar istirahat __ bukan hanya untuk tubuh, tapi juga untuk pikiran. Sebelum benar-benar istirahat, biasanya sekitar jam 18.30 sampai 19.30, saya punya kegiatan mengajar pelajaran sekolah dasar dengan beberapa anak-anak. Rasanya menyenangkan bisa berbagi ilmu dan melihat semangat mereka saat memahami pelajaran. Yaa kadang mereka bikin emosi sii karena semaunya sendiri, penginnya main terus sama bercanda, walaupun kadang capek kegiatan ini selalu bikin saya merasa bermanfaat dan lebih dekat dengan mereka. Setelah itu seperti biasa saya scroll HP lagi dan nyari-nyari info loker untuk saya apply di esok hari, sambil menunggu kantuk datang, saya suka buat catatan rencana untuk kegiatan hari berikutnya. Atau kadang cuman satu-dua kalimat tentang hal-hal yang saya syukuri hari ini. Misalnya, “hari ini panen cabai dari hasil yang saya tana...