Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Criticism

Orang Desa Tidak Pakai Dolar”? Pernyataan Ini Sederhana, Tapi Mengabaikan Realita Ekonomi yang Lebih Besar

Eehh ada yang lagi rame nggak siih?? Tentang “orang desa tidak memakai dolar” jujur heran banget pernyataan se-enggak masuk akal itu keluar dari mulut seorang presiden. Sekarang saya mau mencoba untuk memberi opini yang mungkin setelah tulisan ini ada yang tidak setuju, terutama bagi pendukung pemerintah atau pendukung Prabowo Subianto. Dan itu wajar, karena setiap orang punya sudut pandang berbeda. Tapi menurut saya, ketika seorang presiden mengeluarkan pernyataan yang terasa tidak masuk akal bagi sebagian rakyat, masyarakat juga berhak mempertanyakan. Bukan karena membenci negaranya, bukan juga karena tidak menghormati pemimpin, tapi karena ucapan seorang presiden punya pengaruh besar dan bisa membentuk cara berpikir banyak orang. Oke gas aja yaaa kita kulik bareng. Pernyataan dari Prabowo Subianto yang menyebut bahwa “orang desa tidak memakai dolar” kembali memicu perdebatan publik. Secara permukaan, kalimat ini terdengar masuk akal. Memang benar, masyarakat desa tidak bertransaksi...

“Politik Nggak Ngaruh?” — Coba Lihat Lagi Saat Rupiah Melemah

Saya masih ingat, beberapa waktu lalu—atau mungkin cukup sering—ada kalimat yang terdengar santai tapi sebenarnya cukup mengganggu kalau dipikir ulang: “Ah, politik itu nggak ngaruh ke kehidupan saya.” Dulu, mungkin saya juga tidak terlalu mempermasalahkan kalimat itu. Kedengarannya ringan, seperti bentuk kelelahan terhadap hal-hal yang terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Politik dianggap urusan orang atas, urusan pejabat, urusan yang terlalu rumit untuk dipikirkan. Kita hanya ingin hidup tenang. Kerja, makan, istirahat. Selesai. Tapi sekarang, saya mulai merasa kalimat itu tidak lagi relevan. Atau mungkin sejak awal memang tidak pernah benar. Coba lihat keadaan sekarang. Nilai tukar rupiah terhadap dolar terus merangkak naik. Dalam waktu sekitar dua tahun, angkanya sudah menyentuh kisaran 17 ribu rupiah. Buat sebagian orang, ini mungkin cuma angka. Grafik ekonomi. Sesuatu yang hanya dibahas di berita. Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu. Angka itu pelan-pelan merembes ke kehid...

Patriarki dan Perempuan: Ketika Ketidakadilan Dibungkus sebagai Kodrat

Patriarki itu lucu. Bukan karena menghibur, tapi karena saking seringnya dia hadir, kita jadi lupa kalau sebenarnya dia ada. Patriarki jarang datang dengan wajah galak atau suara keras. Ia lebih sering muncul dalam bentuk nasihat, candaan, tradisi, bahkan “demi kebaikanmu”. Karena itulah patriarki jadi sulit disadari, apalagi dilawan. Sejak kecil, banyak dari kita tumbuh dengan aturan yang kelihatannya normal. Anak perempuan diminta lebih hati-hati, lebih sopan, lebih jaga diri. Anak laki-laki diminta kuat, jangan cengeng, jangan kalah. Waktu itu kita tidak pernah menyebutnya patriarki. Kita hanya menganggapnya sebagai “cara dunia bekerja”. Patriarki bekerja dengan sangat rapi. Ia tidak memaksa secara terang-terangan, tapi menanamkan keyakinan. Bahwa laki-laki adalah pemimpin, perempuan adalah pengikut. Bahwa suara laki-laki lebih tegas, sementara suara perempuan terlalu emosional. Bahwa mimpi laki-laki disebut ambisi, tapi mimpi perempuan sering dianggap berlebihan. Yang menarik, patr...

Child Grooming di Indonesia: Isu Penting yang Masih Sulit Dibicarakan

Saya sering bertanya pada diri saya sendiri, kenapa setiap kali saya mencoba membicarakan child grooming, suasananya langsung berubah. Nada bicara orang-orang jadi kaku, topiknya cepat dialihkan, atau malah dibalas dengan candaan. Seolah-olah saya baru saja membuka sesuatu yang seharusnya tetap tertutup. Bukan karena mereka tidak peduli, tapi karena banyak orang tidak merasa topik ini ada hubungannya dengan hidup mereka. Saya sering mendengar kalimat seperti, “Di lingkungan kita nggak mungkin,” atau “Anak-anak di sini aman-aman saja.” Kalimat-kalimat itu terdengar menenangkan, tapi justru di situlah saya merasa ada masalah besar. Dari yang saya lihat dan rasakan, child grooming di Indonesia sulit dijelaskan karena bentuknya tidak sesuai dengan bayangan kebanyakan orang tentang kejahatan. Kita terbiasa menganggap bahaya itu kasar, keras, dan terlihat jelas. Sementara grooming justru lebih lembut, pelan, dan sering kali dibungkus dengan perhatian. Saya pernah melihat bagaimana perhatian ...

Mengapa Banyak Kebijakan Tidak Pernah Benar-Benar Berpihak pada Masyarakat?

Kita Susah Bukan Karena Kita Nak. Tapi Karena Kebijakan yang Tidak Pernah Benar-Benar Berpihak  Ada orang yang sudah berusaha berjalan lurus, tapi jalannya tetap terasa buntu. Bukan karena salah arah, melainkan karena pintu-pintunya memang jarang dibuka. Dititik itu susah bukan lagi karena malas atau rajin, melainkan siapa yang memegang pintu. Tidak semua kesulitan lahir dari pilihan pribadi. Kadang, kita hanya hidup di negara dimana kebijakan lebih cepat berubah daripada nasib warganya. Dan disana banyak orang tertinggal bukan karena tak mau maju, tapi karena langkahnya terus dipersulit.  Kerja Keras di Sistem yang Tidak Seimbang Sejak kecil kita diajarkan satu rumus sederhana bahwa kerja keras adalah jalan menuju hidup yang lebih baik: sekolah yang benar, kerja yang rajin, hidup akan membaik. Banyak yang mengikuti rumus itu dengan patuh. Lulus sekolah ikut pelatihan, mengumpulkan pengalaman, melamar ke banyak tempat. Namun realitas sering kali tidak seindah janji. Banyak or...

“Nanti Kami Kabari”. Ghosting Halus yang Dinormalisasi dalam Interview Kerja.

Awalnya kamu tenang. HR bilang: “Nanti kami kabari”. Kamu pulang dengan harapan kecil yang dijaga rapi.  Hari pertama kamu maklum. Hari kedua masih positif. Hari ketiga, mulai bertanya-tanya. Sampai kamu akhirnya sadar: Bukan ditolak tapi diabaikan. Dalam dunia interview kerja, tidak semua penolakan disampaikan dengan kata “tidak”. Banyak yang memilih diam, seolah waktu dan perasaan kandidat tidak perlu dihitung. Padahal satu kalimat sederhana: “Maaf kami belum bisa melanjutkan” Jauh lebih manusiawi daripada menghilang tanpa kabar. Namun anehnya, praktik ini justru di normalisasi. “Nanti dikabarin” kalimat itu terdengar sopan, profesional dan aman. Tapi sering kali tidak disertai niat untuk benar-benar memberi kabar. Dan yang menanggung dampaknya bukan sistem _ tapi kamu yang: Menunda melamar ke tempat lain Terus mengecek ponsel Menyalahkan diri sendiri Bertanya “kurang apa ya aku?” Padahal bisa jadi jawabannya sederhana:  Mereka hanya tidak bertanggung jawab. Ghosting tidak ...