Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Self Improvement

Merasa Berguna di Saat Menganggur: Cerita Sederhana yang Menghangatkan Hari Ini

Hari ini sebenarnya dimulai seperti hari-hari sebelumnya—pelan, biasa saja, tanpa sesuatu yang benar-benar ditunggu. Bangun pagi tanpa tujuan yang jelas masih terasa asing, meskipun ini bukan pertama kalinya saya ada di fase menganggur. Ada jeda panjang di antara aktivitas, dan kadang justru di jeda itulah pikiran-pikiran yang tidak diinginkan muncul. Perasaan tidak berguna, misalnya. Aneh ya, bagaimana status “tidak bekerja” bisa pelan-pelan menggerus rasa percaya diri. Seolah-olah nilai diri ikut turun hanya karena belum punya pekerjaan. Padahal kalau dipikir lagi, saya masih orang yang sama. Masih punya kemampuan yang sama. Tapi entah kenapa, rasanya berbeda. Hari ini saya tidak berekspektasi apa-apa. Saya pikir akan berlalu seperti biasa—scroll HP, membantu pekerjaan rumah, lalu kembali tenggelam dalam pikiran sendiri. Tapi ternyata, ada hal kecil yang mengubah suasana hari ini. Sebenarnya ini kejadian beberapa hari yang lalu, tapi baru ada kesempatan untuk berbagi.  Malam hari...

Carpe Diem: Makna Mendalam yang Mengubah Cara Saya Melihat Hidup (Refleksi dari Dead Poets Society)

Ada satu kalimat yang masih saya ingat setelah menonton Dead Poets Society yaitu carpe diem . Dari kalimat sesingkat itu, ternyata bisa merubah cara berpikir saya, bahkan perlahan mengubah cara hidup saya dalam melihat segala sesuatu. Jujur saja, awalnya saya tidak merasa akan mendapatkan sesuatu yang “besar” dari film itu. Saya menontonnya seperti menonton film lainnya—mendapat rekomendasi tontonan dari reels Instagram, kemudian menonton untuk sekadar mengisi waktu. Tapi setelah selesai, ada perasaan yang sulit dijelaskan. Bukan sedih, bukan juga bahagia. Lebih seperti… tersadar. Seolah ada sesuatu yang selama ini saya abaikan, lalu tiba-tiba ditunjukkan begitu saja, tanpa dipaksa.  Carpe diem. Seize the day. Kalimat itu terdengar sederhana, bahkan mungkin terlalu sederhana. Tapi justru karena kesederhanaannya, kalimat itu terasa jujur. Tidak berlebihan, tidak rumit, tapi langsung mengenai sesuatu yang selama ini saya hindari untuk dipikirkan. Saya mulai bertanya ke diri sendiri, ...

Refleksi Akhir Ramadan: Belajar Bersyukur di Tengah Tekanan Hidup dan Perjalanan Mencari Arah

Tidak terasa, Ramadan sudah sampai di ujungnya. Rasanya seperti baru kemarin kita memulai puasa di hari pertama, masih menyesuaikan ritme bangun sahur, menahan lapar, dan menunggu waktu berbuka. Sekarang, tahu-tahu tinggal satu hari lagi sebelum akhirnya kita sampai di Hari Raya. Jujur saja, menjelang Lebaran tahun ini perasaan saya cukup campur aduk. Di satu sisi, ada rasa senang karena berhasil melewati satu bulan Ramadhan. Ada rasa haru juga karena seperti biasa, Ramadan selalu terasa terlalu cepat berlalu. Tapi di sisi lain, ada juga rasa tekanan yang cukup besar yang saya rasakan secara pribadi. Saya belum punya pekerjaan. Dan mungkin banyak orang yang menganggap hal seperti ini sepele untuk dibicarakan, tapi kenyataannya tidak sesederhana itu. Ketika momen Lebaran semakin dekat, biasanya pertanyaan-pertanyaan klasik mulai bermunculan di kepala: “Kerja di mana sekarang?”, “Sudah dapat kerja belum?”, atau “Sekarang sibuk apa?” Bahkan sebelum orang lain menanyakan itu, kadang kita s...

Membenci Diri Sendiri karena Tidak Sebagus Ekspektasi

Pernah nggak, ada satu fase di hidup di mana kamu benar-benar duduk diam, lalu tiba-tiba muncul pikiran: “Kok saya gini banget ya?” Bukan karena gagal besar. Bukan juga karena dimarahi orang. Tapi karena satu hal yang jauh lebih menusuk—kamu sadar bahwa kamu tidak sebaik yang selama ini kamu kira, bahkan di hal yang kamu pikir adalah kekuatanmu. It hurts in a very quiet way. Rasanya seperti ditampar tanpa suara. Tidak ada yang mengejek, tidak ada yang merendahkan. Tapi kepala kamu sendiri yang mulai berisik. Mulai membandingkan. Mulai mempertanyakan. Mulai menyerang. “Saya kira saya jago di sini.” “Saya pikir ini kelebihan saya.” “Ternyata… biasa aja.” “Atau malah buruk.” Dan dari situ, pelan-pelan, rasa benci ke diri sendiri mulai tumbuh. Saya pernah berada di titik itu. Mungkin kamu juga. Saat kamu menaruh harapan besar pada satu kemampuan, satu identitas, satu label yang selama ini kamu pegang: yang kreatif, yang pintar ngomong, yang cepat belajar, yang berbakat. Lalu suatu hari, re...

Akhir-Akhir Ini Saya Pede Banget Bikin Video Reaction di YouTube, Padahal Dulu Takut Kamera

Ada satu hal yang cukup mengejutkan diri saya sendiri akhir-akhir ini: saya tiba-tiba merasa pede banget buat bikin video reaction dan mengunggahnya ke YouTube . Padahal, kalau ditarik ke belakang, saya termasuk orang yang cukup sering ragu sama diri sendiri. Terutama soal tampil di depan kamera. Dulu, kamera itu terasa seperti penghakiman. Saya terlalu fokus sama suara sendiri, ekspresi wajah, takut dibilang sok tahu, takut dibilang nggak menarik, atau paling klasik: takut nggak ada yang nonton. Tapi entah kenapa, belakangan ini perasaan itu pelan-pelan berubah. Awalnya bukan karena target besar atau mimpi jadi YouTuber terkenal. Justru sebaliknya, semuanya terasa sederhana. Saya nonton video, lalu muncul dorongan kecil di kepala: “Kayaknya seru kalau saya reaction-in dari sudut pandang saya.” Dan untuk pertama kalinya, pikiran itu nggak langsung saya patahkan sendiri. Sebenarnya video nya sangat sederhana, saya tidak menggunakan riasan apapun, hanya menggunakan kaos dan duduk dengan...

5 Stages of Grief: Memahami Proses Kehilangan yang Tidak Pernah Benar-Benar Linear

Kehilangan adalah pengalaman yang hampir pasti dialami setiap manusia. Kehilangan orang yang dicintai, kehilangan hubungan, pekerjaan, mimpi, bahkan versi diri kita yang dulu. Dalam prosesnya, banyak orang merasa bingung dengan emosi yang datang silih berganti: sedih, marah, kosong, menyangkal, lalu tiba-tiba merasa “baik-baik saja” dan merasa bersalah karenanya. Di sinilah konsep 5 stages of grief menjadi relevan. Teori 5 stages of grief pertama kali diperkenalkan oleh Elisabeth Kübler-Ross. Awalnya teori ini digunakan untuk memahami proses emosional pasien dengan penyakit terminal, namun seiring waktu, konsep ini juga dipakai untuk menjelaskan berbagai bentuk kehilangan dalam hidup. Penting untuk dipahami sejak awal: tahapan ini tidak selalu berurutan dan tidak semua orang mengalaminya dengan cara yang sama . 1. Denial (Penolakan) Tahap pertama dari 5 stages of grief adalah denial atau penolakan. Pada fase ini, seseorang cenderung menolak kenyataan yang terjadi. Pikiran seperti “...

4 Tips Sederhana untuk Pengangguran Agar Bangkit dan Mulai Cari Uang

Opini jujur tentang pengangguran, kebiasaan kecil, dan cara realistis mencari uang tanpa drama motivasi. Karena saya sendiri yang mengalaminya, dan kita harus sadar yaa ini itu dunia nyata bukan negeri dongeng. Jadi, tulisan ini tidak akan terdengar manis. Tidak ada janji hidup berubah dalam 7 hari. Tidak ada kalimat klise seperti “semesta akan membantumu” . Ini murni opini pribadi, lahir dari melihat banyak orang _ termasuk diri sendiri yang sedang menjalani _ yang terjebak di fase pengangguran terlalu lama. Pengangguran itu bukan cuman soal tidak punya uang. Yang lebih berbahaya adalah hilangnya struktur hidup. Bangun siang, hari terasa kosong, lalu waktu habis untuk scroll HP sambil berharap keajaiban datang sendiri. Kalau kamu sedang di fase ini, empat hal di bawah mungkin terdengar sepele. Tapi justru yang sepele-sepele inilah yang sering menyelamatkan orang dari tenggelam lebih dalam. Bangun Pagi + Mandi (Walaupun Nganggur) Kelihatannya receh. Tapi percaya atau tidak, jam bangun ...