Saya waktu itu sempat melihat dan menonton sebuah klip video dari Dr. Gia. Kalau tidak salah Beliau menyampaikan seperti ini:
“Orang yang anxiety selalu khawatir memikirkan masa depannya, sedangkan orang yang depresi masih belum bisa melepaskan masa lalunya."
Kalimat itu terdengar sederhana. Saat mendengarnya, banyak orang langsung merasa terwakili. Ada yang merasa hidupnya dipenuhi kekhawatiran tentang apa yang akan terjadi besok. Ada juga yang merasa dirinya masih terjebak dalam kenangan, penyesalan, kehilangan, atau luka yang terjadi bertahun-tahun lalu.
Meski kenyataannya anxiety dan depresi jauh lebih kompleks daripada satu kalimat tersebut, ada sesuatu yang menyentuh dari pesan di baliknya.
Manusia memang sering hidup di dua tempat yang sebenarnya tidak bisa kita tinggali.
Masa lalu.
Dan masa depan.
Padahal satu-satunya tempat kita benar-benar berada adalah hari ini.
Ketika Masa Depan Terasa Menakutkan
Orang yang sering cemas biasanya bukan karena mereka lemah.
Justru sering kali mereka terlalu banyak memikirkan kemungkinan.
Bagaimana kalau gagal?
Bagaimana kalau ditolak?
Bagaimana kalau tidak mendapatkan pekerjaan?
Bagaimana kalau orang yang saya sayangi pergi?
Bagaimana kalau saya tidak bisa mencapai apa yang saya impikan?
Pikiran-pikiran itu datang tanpa diundang.
Awalnya hanya satu pertanyaan.
Lalu berkembang menjadi puluhan skenario yang belum tentu terjadi.
Ironisnya, banyak orang yang memiliki anxiety sebenarnya adalah orang-orang yang sangat peduli terhadap hidup mereka. Mereka ingin semuanya berjalan baik. Mereka ingin membuat keputusan yang benar. Mereka ingin melindungi diri mereka dari rasa sakit.
Namun semakin keras mereka mencoba mengendalikan masa depan, semakin mereka menyadari bahwa masa depan memang tidak bisa dikendalikan sepenuhnya.
Dan dari situlah kecemasan sering muncul.
Karena masa depan adalah wilayah yang penuh ketidakpastian.
Ketika Masa Lalu Tidak Mau Pergi
Di sisi lain, ada orang-orang yang tidak terlalu takut pada masa depan.
Mereka justru lelah dengan masa lalu.
Mereka masih mengingat kata-kata yang pernah melukai mereka.
Masih mengingat kesempatan yang hilang.
Masih mengingat orang yang pergi.
Masih mengingat versi diri mereka yang dulu.
Kadang mereka terlihat baik-baik saja dari luar.
Mereka bekerja.
Mereka tersenyum.
Mereka menjalani aktivitas sehari-hari.
Namun di dalam hati, ada bagian yang masih tertinggal di suatu waktu yang sudah lama berlalu.
Mereka tidak sedang hidup di tahun ini.
Sebagian dari diri mereka masih hidup di hari ketika semuanya berubah.
Mungkin itu hari ketika mereka kehilangan seseorang.
Mungkin itu hari ketika mereka gagal.
Mungkin itu hari ketika mimpi mereka runtuh.
Dan setiap kali mengingatnya, rasa sakit itu terasa baru lagi.
Seolah-olah waktu tidak pernah benar-benar bergerak.
Sedihnya Menjadi Manusia
Kadang saya berpikir, salah satu hal paling menyedihkan tentang menjadi manusia adalah kemampuan kita untuk mengingat dan membayangkan.
Kita bisa mengingat luka yang sudah bertahun-tahun berlalu.
Kita juga bisa membayangkan bencana yang bahkan belum terjadi.
Akibatnya, kita sering kehilangan hari ini.
Tubuh kita ada di sini.
Tetapi pikiran kita ada di tempat lain.
Sebagian terjebak di belakang.
Sebagian berlari terlalu jauh ke depan.
Dan akhirnya kita kelelahan.
Bukan karena perjalanan hidup yang kita jalani.
Melainkan karena perjalanan yang terus terjadi di dalam kepala kita sendiri.
Semua Orang Sedang Berjuang
Hal yang sering terlupakan adalah bahwa setiap orang membawa beban yang tidak terlihat.
Orang yang terlihat santai mungkin sedang memikirkan masa depannya setiap malam.
Orang yang selalu tersenyum mungkin masih menangis ketika mengingat masa lalunya.
Kita tidak pernah benar-benar tahu pertarungan apa yang sedang dihadapi seseorang.
Karena itu, sedikit kebaikan bisa berarti sangat besar.
Sebuah pesan singkat.
Sebuah sapaan.
Sebuah kalimat sederhana seperti, "Apa kabar?"
Kadang hal-hal kecil seperti itu bisa membuat seseorang merasa tidak sendirian.
Mungkin Kita Semua Sedang Belajar
Mungkin hidup bukan tentang menghapus masa lalu.
Dan bukan juga tentang mengetahui seluruh masa depan.
Mungkin hidup adalah belajar berdamai dengan keduanya.
Menerima bahwa ada hal-hal yang tidak bisa diubah.
Menerima bahwa ada hal-hal yang belum bisa diketahui.
Lalu tetap melangkah meskipun jawabannya belum lengkap.
Karena pada akhirnya, masa lalu sudah selesai ditulis.
Masa depan belum ditulis.
Yang benar-benar kita miliki hanyalah hari ini.
Hari yang mungkin tidak sempurna.
Hari yang mungkin masih dipenuhi kekhawatiran dan kenangan.
Tetapi tetap merupakan kesempatan baru untuk mencoba lagi.
Dan mungkin itu cukup.
Cukup untuk bangun besok pagi.
Cukup untuk melanjutkan langkah berikutnya.
Cukup untuk percaya bahwa meskipun masa lalu pernah menyakitkan dan masa depan terasa menakutkan, hidup masih menyimpan kemungkinan-kemungkinan baik yang belum kita temui.

Komentar
Posting Komentar