Kembalilah kepada Allah, meskipun kamu telah berdosa seribu kali


Menurut saya, salah satu kebohongan paling menyakitkan yang sering kita percaya adalah anggapan bahwa ada titik di mana Allah berhenti menerima kita. Bahwa setelah terlalu banyak kesalahan, terlalu banyak janji yang dilanggar, dan terlalu sering jatuh pada dosa yang sama, kita seolah melewati batas tak terlihat dan menjadi tidak pantas untuk kembali. Saya tidak percaya batas itu benar-benar ada. Saya pikir kitalah yang menciptakannya sendiri, dari rasa bersalah dan malu.

Kita berbuat dosa, menyesal, berjanji akan berubah, lalu terkadang gagal lagi. Saat itu terjadi, banyak dari kita tidak lari kembali kepada Allah, justru menjauh. Bukan karena Allah menolak kita, tetapi karena kita sudah lebih dulu berasumsi akan ditolak. Dan menurut saya, asumsi itu adalah salah satu cara paling halus bagaimana iman perlahan melemah—bukan karena pembangkangan, melainkan karena kelelahan dan menyalahkan diri sendiri.

Sejujurnya, saya percaya keputusasaan lebih berbahaya daripada dosa itu sendiri. Orang yang berdosa tetapi masih berdoa, masih memohon ampun, dan masih percaya bahwa Allah mendengarnya, sejatinya masih terhubung. Namun ketika seseorang berhenti kembali karena merasa “terlalu kotor” atau “terlalu jauh”, di situlah jarak yang sebenarnya mulai terbentuk. Pikiran seperti itu bukan berasal dari iman, melainkan dari hilangnya harapan.

Allah tahu kita akan gagal. Itu bukan kelemahan dalam penciptaan-Nya, melainkan kenyataan sebagai manusia. Jika Allah mengharapkan kesempurnaan, tentu taubat tidak akan pernah ada. Namun taubat selalu tersedia, menunggu kita, seberapa pun seringnya kita kembali untuk kesalahan yang sama. Menurut saya, taubat bukan soal membuktikan bahwa kita telah berubah selamanya, tetapi tentang menolak menyerah pada Allah, meskipun kita kecewa pada diri sendiri.

Ada anggapan bahwa kita harus “pantas” dulu sebelum berdoa. Saya tidak sepakat. Jika kesucian menjadi syarat, maka tak seorang pun akan berdoa. Kita tidak datang kepada Allah karena kita bersih, tetapi karena kita belum bersih. Doa bukan hadiah bagi orang yang saleh, melainkan tali penyelamat bagi mereka yang sedang berjuang.

Saya juga percaya bahwa Islam tidak pernah mendefinisikan seseorang dari titik terendah dalam hidupnya. Dosa-dosa masa lalu mungkin terasa sangat bising di kepala kita, tetapi tidak pernah lebih keras daripada rahmat Allah. Satu kesalahan, bahkan serangkaian kesalahan, tidak menghapus posisi kita sebagai hamba-Nya. Kembali—meski dengan langkah ragu, meski belum sempurna—tetap bernilai.

Jadi menurut saya sederhana saja: kembalilah. Bukan saat kamu merasa siap. Bukan saat kamu merasa pantas. Bukan saat semuanya sudah beres. Kembalilah sekarang, apa adanya. Dengan rasa bersalah, dengan takut, dengan harapan yang mungkin terasa rapuh.

Meskipun kamu telah berdosa seribu kali. Meskipun kamu sudah berkali-kali meminta ampun dan tetap jatuh lagi. Meskipun kamu malu untuk menengadahkan tangan dalam doa.

Selama kamu masih mau kembali kepada Allah, kamu belum tersesat. Dan aku sungguh percaya, Allah tidak pernah menolak hati yang kembali dengan tulus.


“Dalam Al-Qur’an, Allah berbicara langsung kepada mereka yang merasa tersesat:

‘Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa.’” (Surah Az-Zamur: 53).

Komentar

Postingan Populer