Child Grooming di Indonesia: Isu Penting yang Masih Sulit Dibicarakan
Saya sering bertanya pada diri saya sendiri, kenapa setiap kali saya mencoba membicarakan child grooming, suasananya langsung berubah. Nada bicara orang-orang jadi kaku, topiknya cepat dialihkan, atau malah dibalas dengan candaan. Seolah-olah saya baru saja membuka sesuatu yang seharusnya tetap tertutup.
Bukan karena mereka tidak peduli, tapi karena banyak orang tidak merasa topik ini ada hubungannya dengan hidup mereka. Saya sering mendengar kalimat seperti, “Di lingkungan kita nggak mungkin,” atau “Anak-anak di sini aman-aman saja.” Kalimat-kalimat itu terdengar menenangkan, tapi justru di situlah saya merasa ada masalah besar.
Dari yang saya lihat dan rasakan, child grooming di Indonesia sulit dijelaskan karena bentuknya tidak sesuai dengan bayangan kebanyakan orang tentang kejahatan. Kita terbiasa menganggap bahaya itu kasar, keras, dan terlihat jelas. Sementara grooming justru lebih lembut, pelan, dan sering kali dibungkus dengan perhatian. Saya pernah melihat bagaimana perhatian berlebih pada anak dianggap wajar, bahkan dipuji. Selama pelakunya sopan, dikenal naik, dan tidak membuat keributan, semua orang merasa aman.
Saya juga tumbuh di lingkungan yang mengajarkan bahwa orang dewasa harus dihormati tanpa banyak pertanyaan. Kalau orang dewasa bicara, anak mendengar. Kalau orang dewasa bercanda, anak diminta maklum. Rasa tidak nyaman sering dianggap sebagai sikap berlebihan. Dari situ saya mulai sadar, betapa mudahnya batasan anak diabaikan tanpa disadari siapapun.
Yang membuat saya semakin gelisah adalah kenyataan bahwa anak sering kali sudah merasa ada yang tidak beres, tapi tidak punya bahasa untuk menjelaskan. Mereka hanya tahu ada perasaan aneh, tidak nyaman, atau takut tanpa alasan yang jelas. Sayangnya, perasaan itu jarang dianggap serius. Saya sering melihat intuisi anak dipatahkan dengan kalimat, “Kamu kebanyakan mikir”, atau “Jangan aneh-aneh”.
Saya juga merasa topik ini makin sulit dibicarakan karena kita hidup di masyarakat yang masih menganggap pembahasan tentang tubuh dan batasan sebagai sesuatu yang tabu. Kita ingin anak-anak “polos”, tapi lupa bahwa kepolosan tanpa perlindungan justru membuat mereka rentan. Saya melihat sendiri bagaimana orang dewasa sering kali lebih khawatir anak menjadi “terlalu tahu” daripada menjadi tidak aman.
Hal lain yang menurut saya berat adalah kenyataan bahwa pelaku child grooming sering bukan orang asing. Mereka adalah orang yang hadir dalam keseharian, yang dipercaya, yang dianggap bagian dari lingkungan aman. Ketika saya mencoba membicarakan kemungkinan itu, respons yang muncul sering kali defensif. Seolah-olah mencurigai orang yang dikenal sama dengan menuduh tanpa bukti. Padahal, yang ingin dibicarakan bukan tuduhan, tapi kewaspadaan.
Saya juga tidak bisa mengabaikan bagaimana korban seringkali justru diposisikan sebagai pihak yang harus menjelaskan diri. Kenapa tidak menolak, kenapa diam, kenapa tidak cerita dari awal. Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar logis, tapi menyimpan satu asumsi besar: bahwa anak punya kuasa yang sama dengan orang dewasa. Dari pengamatan saya, asumsi ini sangat keliru, tapi masih sangat umum dipercaya.
Semakin saya memikirkan ini, semakin saya merasa bahwa child grooming sulit dijelaskan di Indonesia bukan karena orang-orang bodoh atau tidak berempati. Tapi karena topik ini memaksa kita untuk mengoreksi banyak hal yang selama ini terasa nyaman. Cara kita mendidik anak, cara kita menjaga ketenangan sosial. Semua itu ikut dipertanyakan.
Dan jujur saja, tidak semua orang siap menghadapi pertanyaan-pertanyaan itu.
Menjelaskan child grooming berarti mengakui bahwa niat baik tidak selalu aman, bahwa kedekatan tidak selalu sehat, dan bahwa anak-anak berhak didengar bahkan ketika ceritanya membuat kita tidak nyaman. Bagi sebagian orang, pengakuan ini terasa terlalu berat.
Saya menulis ini bukan karena merasa paling benar, tapi karena saya percaya bahwa diam justru membuat masalah ini terus berulang. Selama kita terus menghindari dari pembahasan yang tidak nyaman, child grooming akan tetap sulit dijelaskan _ dan lebih sulit lagi dicegah.
Dan yang paling menyedihkan, harga dari semua keheningan itu hampir selalu dibayar oleh anak-anak, bukan oleh orang dewasa.
Komentar
Posting Komentar