Patriarki dan Perempuan: Ketika Ketidakadilan Dibungkus sebagai Kodrat

Patriarki itu lucu. Bukan karena menghibur, tapi karena saking seringnya dia hadir, kita jadi lupa kalau sebenarnya dia ada. Patriarki jarang datang dengan wajah galak atau suara keras. Ia lebih sering muncul dalam bentuk
nasihat, candaan, tradisi, bahkan “demi kebaikanmu”. Karena itulah patriarki jadi sulit disadari, apalagi dilawan.

Sejak kecil, banyak dari kita tumbuh dengan aturan yang kelihatannya normal. Anak perempuan diminta lebih hati-hati, lebih sopan, lebih jaga diri. Anak laki-laki diminta kuat, jangan cengeng, jangan kalah. Waktu itu kita tidak pernah menyebutnya patriarki. Kita hanya menganggapnya sebagai “cara dunia bekerja”.

Patriarki bekerja dengan sangat rapi. Ia tidak
memaksa secara terang-terangan, tapi menanamkan keyakinan. Bahwa laki-laki adalah pemimpin, perempuan adalah pengikut. Bahwa suara laki-laki lebih tegas, sementara suara perempuan terlalu emosional. Bahwa mimpi laki-laki disebut ambisi, tapi mimpi perempuan sering dianggap berlebihan.

Yang menarik, patriarki tidak hanya menekan perempuan. Ia juga membebani laki-laki. Tapi karena sistem ini menguntungkan posisi laki-laki secara struktural, penderitaan mereka sering tidak dianggap sebagai masalah patriarki, melainkan “kodrat”.

Perempuan dibesarkan dengan rasa takut. Takut pulang malam, takut salah berpakaian, takut terlalu vokal, takut dibilang tidak pantas. Sementara laki-laki dibesarkan dengan tekanan untuk selalu kuat, selalu bisa, selalu jadi penopang. Laki-laki yang lelah dianggap lemah. Perempuan yang melawan dianggap durhaka.

Di sinilah patriarki jadi berbahaya: ketika ia membuat ketidakadilan terasa wajar.

Dalam kehidupan sehari-hari, patriarki muncul di tempat yang sangat dekat. Di rumah, misalnya. Pekerjaan domestik sering otomatis
dianggap tugas perempuan. Ketika laki-laki membantu, ia dipuji seolah melakukan sesuatu yang luar biasa. Padahal itu rumahnya juga. Tapi ketika perempuan melakukan hal yang sama setiap hari, itu dianggap kewajiban.

Dalam dunia kerja, patriarki lebih licik lagi. Perempuan ditanya soal rencana menikah dan punya anak, seolah kariernya hanya selingan sebelum “tugas utama”. Ketika perempuan tegas, ia disebut galak. Ketika laki-laki tegas, ia disebut pemimpin. Standar yang sama, penilaian yang berbeda.

Patriarki juga mempengaruhi cara masyarakat memandang tubuh perempuan. Tubuh
perempuan jadi objek pengawasan bersama. Terlalu tertutup dianggap kuno, terlalu terbuka dianggap murahan. Lucunya, hampir selalu perempuan yang disalahkan, bukan sistem yang memaksa mereka untuk selalu berada di posisi “cukup, tapi jangan berlebihan”.

Yang paling menyedihkan, patriarki sering dibela oleh orang-orang yang justru dirugikan olehnya. Banyak perempuan yang merasa tidak masalah dengan ketidakadilan, karena sejak kecil diajarkan bahwa itulah peran mereka. Banyak laki-laki yang menolak
membicarakan patriarki karena merasa diserang, padahal yang dikritik adalah sistem, bukan individu.

Patriarki bertahan karena ia diwariskan, bukan dipertanyakan.

Di Indonesia, patriarki sering bersembunyi di balik budaya dan agama. Setiap kritik dianggap serangan terhadap nilai luhur. Padahal, mempertanyakan patriarki bukan berarti membenci budaya atau iman. Justru sebaliknya, itu adalah usaha untuk memastikan nilai kemanusiaan tidak dikorbankan demi tradisi yang tidak pernah dievaluasi.

Kita sering lupa bahwa budaya bukan sesuatu yang beku. Ia berubah, tumbuh, dan beradaptasi. Tapi patriarki ingin kita percaya bahwa semua sudah digariskan dan tidak bisa diubah. Bahwa ketimpangan adalah takdir.

Padahal, tidak semua yang lama itu adil.

Melawan patriarki tidak selalu berarti turun ke jalan atau berteriak lantang. Kadang, melawannya sesederhana membagi pekerjaan rumah secara adil. Mendengarkan suara perempuan tanpa menyela. Mengizinkan laki-laki untuk menangis tanpa merendahkan. Mengajarkan anak bahwa nilai mereka tidak ditentukan oleh gender.

Perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran kecil.

Patriarki juga membuat kita saling curiga. Perempuan dianggap musuh perempuan lain. Laki-laki dianggap selalu dominan dan tidak boleh rapuh. Padahal, sistem inilah yang sebenarnya diuntungkan jika kita terus saling menyalahkan, alih-alih mempertanyakan akarnya.

Yang perlu kita pahami: patriarki bukan tentang membalikkan kekuasaan, tapi tentang keadilan. Bukan tentang menggantikan
dominasi laki-laki dengan dominasi perempuan, melainkan menciptakan ruang di mana setiap orang bisa menjadi manusia seutuhnya.

Tanpa takut. Tanpa dibatasi peran sempit.

Mungkin patriarki tidak akan runtuh dalam semalam. Tapi setiap kali kita berani bertanya “kenapa harus begini?”, setiap kali kita menolak standar ganda, setiap kali kita membela pilihan hidup orang lain—di situlah patriarki mulai retak.

Dan mungkin, dunia yang lebih adil itu tidak lahir dari revolusi besar, tapi dari keberanian kecil untuk tidak lagi menganggap ketidakadilan sebagai hal yang biasa

Komentar

Postingan Populer