Orang Desa Tidak Pakai Dolar”? Pernyataan Ini Sederhana, Tapi Mengabaikan Realita Ekonomi yang Lebih Besar
Eehh ada yang lagi rame nggak siih?? Tentang “orang desa tidak memakai dolar” jujur heran banget pernyataan se-enggak masuk akal itu keluar dari mulut seorang presiden. Sekarang saya mau mencoba untuk memberi opini yang mungkin setelah tulisan ini ada yang tidak setuju, terutama bagi pendukung pemerintah atau pendukung Prabowo Subianto. Dan itu wajar, karena setiap orang punya sudut pandang berbeda. Tapi menurut saya, ketika seorang presiden mengeluarkan pernyataan yang terasa tidak masuk akal bagi sebagian rakyat, masyarakat juga berhak mempertanyakan. Bukan karena membenci negaranya, bukan juga karena tidak menghormati pemimpin, tapi karena ucapan seorang presiden punya pengaruh besar dan bisa membentuk cara berpikir banyak orang. Oke gas aja yaaa kita kulik bareng.
Pernyataan dari Prabowo Subianto yang menyebut bahwa “orang desa tidak memakai dolar” kembali memicu perdebatan publik.
Secara permukaan, kalimat ini terdengar masuk akal. Memang benar, masyarakat desa tidak bertransaksi menggunakan dolar dalam kehidupan sehari-hari. Mereka belanja dengan rupiah, di warung, pasar, atau toko kecil.
Tapi masalahnya bukan di alat transaksinya, melainkan di struktur ekonominya.
Dan di sinilah letak kekeliruan penyederhanaan itu.
Kamu Tidak Pakai Dolar, Tapi Semua yang Kamu Beli Terpengaruh Dolar
Fakta ekonomi modern sangat jelas: Indonesia adalah negara dengan ketergantungan impor pada banyak bahan pangan strategis.
Contohnya:
Kedelai (bahan tempe dan tahu) → mayoritas impor
Gandum (tepung terigu, mie, gorengan) → 100% impor
Bahan pakan ternak → sangat bergantung impor
Beberapa komponen minyak goreng & pangan olahan → terhubung pasar global
Artinya sederhana:
> Walaupun kamu tidak pernah melihat dolar, dolar tetap “ikut menentukan harga hidupmu”.
Dampaknya Nyata: Dari Pabrik ke Warung Gorengan
Mari tarik logikanya pelan-pelan:
Dolar naik →
Harga impor naik →
Biaya produksi naik →
Distributor menaikkan harga →
Warung kecil di desa ikut menaikkan harga
Akhirnya siapa yang kena?
Ibu rumah tangga di desa
Penjual gorengan pinggir jalan
Petani dan buruh dengan pendapatan tetap
Jadi ketika kita bilang “desa tidak pakai dolar”, itu benar secara teknis.
Tapi secara ekonomi? Mereka justru termasuk yang paling rentan terhadap efek dolar.
Kesalahan Logika: Menganggap Tidak Menggunakan = Tidak Terdampak
Ini adalah kesalahan berpikir yang cukup umum dalam politik ekonomi:
Tidak pegang dolar → dianggap tidak terpengaruh dolar
Tidak impor langsung → dianggap aman dari pasar global
Tidak trading → dianggap tidak terdampak krisis global
Padahal ekonomi modern tidak bekerja sesederhana itu.
Yang menentukan bukan siapa yang memakai dolar, tapi:
> Seberapa dalam dolar sudah masuk ke rantai produksi kebutuhan sehari-hari.
Inflasi “Tak Terlihat” yang Justru Paling Terasa
Masyarakat desa mungkin tidak mengikuti kurs rupiah setiap hari.
Tapi mereka sangat merasakan efeknya lewat:
Harga tempe naik
Gorengan mengecil atau mahal
Mie instan naik harga
Biaya lauk sehari-hari makin ketat
Inilah yang disebut efek “inflasi impor” — diam, tidak terlihat di layar berita desa, tapi terasa di dapur rumah.
Kesimpulan: Masalahnya Bukan Dolar Dipakai atau Tidak, Tapi Dolar Mengatur Harga Hidup
Pernyataan bahwa “orang desa tidak pakai dolar” memang benar secara literal, tetapi terlalu dangkal untuk menggambarkan realitas ekonomi Indonesia hari ini.
Karena faktanya:
Desa tidak memakai dolar
Tapi desa merasakan dampak dolar
Lewat semua yang mereka makan setiap hari
Dan di titik itu, diskusinya bukan lagi soal mata uang yang digunakan, tapi soal:
> seberapa mandiri struktur pangan dan ekonomi kita dari ketergantungan impor.
Sekali lagi, ini hanya opini pribadi. Saya tidak memaksa siapapun untuk setuju. Justru saya senang kalau masih ada ruang untuk berdiskusi tanpa harus saling menyerang hanya karena pilihan politik berbeda.”

Komentar
Posting Komentar