Saya masih ingat, beberapa waktu lalu—atau mungkin cukup sering—ada kalimat yang terdengar santai tapi sebenarnya cukup mengganggu kalau dipikir ulang:
“Ah, politik itu nggak ngaruh ke kehidupan saya.”
Dulu, mungkin saya juga tidak terlalu mempermasalahkan kalimat itu. Kedengarannya ringan, seperti bentuk kelelahan terhadap hal-hal yang terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Politik dianggap urusan orang atas, urusan pejabat, urusan yang terlalu rumit untuk dipikirkan.
Kita hanya ingin hidup tenang.
Kerja, makan, istirahat.
Selesai.
Tapi sekarang, saya mulai merasa kalimat itu tidak lagi relevan. Atau mungkin sejak awal memang tidak pernah benar.
Coba lihat keadaan sekarang.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar terus merangkak naik. Dalam waktu sekitar dua tahun, angkanya sudah menyentuh kisaran 17 ribu rupiah. Buat sebagian orang, ini mungkin cuma angka. Grafik ekonomi. Sesuatu yang hanya dibahas di berita.
Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu.
Angka itu pelan-pelan merembes ke kehidupan sehari-hari.
Harga bahan pokok naik.
Barang impor ikut naik.
Biaya produksi naik, lalu harga jual ikut naik.
Dan akhirnya, yang paling terasa: biaya hidup makin berat.
Kita mungkin tidak langsung menyebutnya sebagai dampak politik. Tapi mari jujur—kebijakan ekonomi, arah negara, keputusan yang diambil oleh pemerintah, semuanya adalah bagian dari politik.
Jadi ketika dampaknya terasa sampai ke dapur rumah kita, masihkah kita mau bilang ini tidak ada hubungannya?
Yang lebih menarik lagi adalah reaksi kita.
Kita mengeluh.
Kita bilang semuanya mahal.
Kita merasa hidup makin susah.
Tapi di saat yang sama, masih banyak yang memilih untuk tetap tidak peduli.
Seolah-olah dua hal itu bisa dipisahkan.
Seolah-olah kita bisa merasakan dampaknya tanpa mau tahu penyebabnya.
Ini yang menurut saya perlu dipertanyakan.
Kenapa kita begitu cepat mengeluh, tapi begitu lambat untuk peduli?
Kenapa kita begitu sadar saat harga naik, tapi tidak ingin tahu kenapa itu bisa terjadi?
Padahal kalau mau jujur, hidup di zaman sekarang itu justru sudah jauh lebih mudah untuk mencari tahu. Informasi ada di mana-mana. Tinggal buka HP, kita bisa membaca berita, melihat data, mendengar berbagai sudut pandang.
Akses itu sudah ada.
Kesempatan untuk paham itu terbuka lebar.
Tapi yang sering terjadi justru sebaliknya—bukan tidak bisa tahu, tapi memilih untuk tidak mau tahu.
Memilih untuk acuh tak acuh.
Lebih memilih nyaman dalam ketidaktahuan, daripada sedikit repot untuk memahami.
Dan yang lebih disayangkan lagi, ketika sudah diberi tahu, ketika sudah diingatkan, responnya bukan refleksi diri.
Bukan muhasabah.
Tapi malah semakin menjadi.
Semakin keras menolak.
Semakin defensif, seolah-olah kepedulian adalah ancaman.
Di titik ini, rasanya bukan lagi soal tidak tahu.
Tapi soal tidak mau tahu.
Bukan soal tidak mampu berpikir.
Tapi soal tidak mau berpikir.
Dan itu jauh lebih berbahaya.
Karena kalau ketidaktahuan masih bisa diperbaiki, ketidakpedulian yang dipilih dengan sadar justru akan terus dipertahankan.
Saya tidak sedang bilang semua orang harus jadi pengamat politik. Tidak juga harus paham teori ekonomi yang rumit. Tapi setidaknya ada kesadaran dasar—bahwa apa yang terjadi di negara ini tidak pernah benar-benar jauh dari hidup kita.
Masalahnya, sikap “nggak peduli” ini sering terasa nyaman.
Tidak perlu pusing.
Tidak perlu debat.
Tidak perlu ikut-ikutan.
Tapi tanpa disadari, sikap itu juga membuat kita kehilangan posisi.
Kita jadi hanya penonton.
Menerima apa pun yang terjadi, tanpa benar-benar punya suara.
Padahal, dalam banyak hal, diam juga sebuah sikap.
Dan sering kali, diam adalah bentuk persetujuan paling sunyi.
Saya tidak sedang bilang semua orang harus turun ke jalan, atau langsung aktif di dunia politik. Tapi kalau kita terus-menerus menutup mata, kita sendiri yang akan menanggung dampaknya—pelan-pelan, tapi pasti.
Karena realitanya sederhana:
Ketika rupiah melemah, kita yang bayar lebih mahal.
Ketika kebijakan tidak berpihak, kita yang menyesuaikan.
Ketika kondisi memburuk, kita juga yang harus bertahan.
Jadi sebenarnya, sejauh mana kita mau terus bilang “ini bukan urusan saya”?
Tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa-siapa.
Lebih ke arah mengajak jujur pada diri sendiri.
Bahwa mungkin selama ini kita terlalu nyaman dengan ketidaktahuan.
Terlalu terbiasa menyerahkan semuanya pada “yang di atas”.
Padahal kita juga bagian dari sistem itu.
Kita juga punya peran, sekecil apa pun.
Mulai dari hal yang paling dasar:
mau tahu apa yang sedang terjadi,
mau memilah informasi,
mau berpikir sebelum berpendapat,
dan yang paling penting—tidak apatis.
Karena perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.
Kadang dimulai dari kesadaran.
Dari pertanyaan sederhana:
“Ini sebenarnya ada hubungannya sama hidup saya nggak, sih?”
Dan kalau jawabannya iya, maka pertanyaan berikutnya adalah:
“Terus, saya mau tetap diam, atau mulai peduli?”
Mungkin kita tidak bisa langsung mengubah keadaan.
Tapi setidaknya, kita tidak lagi pura-pura tidak terlibat.
Karena pada akhirnya, yang kita hadapi bukan sekadar angka 17 ribu per dolar.
Tapi kenyataan bahwa apa yang terjadi di negara ini—suka atau tidak—akan selalu sampai ke kehidupan kita.
Dan di titik itu, sulit rasanya untuk tetap bilang:
“Politik nggak ngaruh ke saya.”
Komentar
Posting Komentar