“Nanti Kami Kabari”. Ghosting Halus yang Dinormalisasi dalam Interview Kerja.
Awalnya kamu tenang. HR bilang: “Nanti kami kabari”.
Kamu pulang dengan harapan kecil yang dijaga rapi.
Hari pertama kamu maklum.
Hari kedua masih positif.
Hari ketiga, mulai bertanya-tanya.
Sampai kamu akhirnya sadar: Bukan ditolak tapi diabaikan.
Dalam dunia interview kerja, tidak semua penolakan disampaikan dengan kata “tidak”. Banyak yang memilih diam, seolah waktu dan perasaan kandidat tidak perlu dihitung.
Padahal satu kalimat sederhana: “Maaf kami belum bisa melanjutkan”
Jauh lebih manusiawi daripada menghilang tanpa kabar. Namun anehnya, praktik ini justru di normalisasi.
“Nanti dikabarin” kalimat itu terdengar sopan, profesional dan aman. Tapi sering kali tidak disertai niat untuk benar-benar memberi kabar. Dan yang menanggung dampaknya bukan sistem _ tapi kamu yang:
Menunda melamar ke tempat lain
Terus mengecek ponsel
Menyalahkan diri sendiri
Bertanya “kurang apa ya aku?”
Padahal bisa jadi jawabannya sederhana: Mereka hanya tidak bertanggung jawab.
Ghosting tidak Cuma terjadi dalam hubungan personal. Di dunia kerja, ghosting hadir dalam bentuk yang lebih rapi dan berlabel profesional.
Ciri-cirinya:
Janji Follow-up tanpa waktu yang jelas
Tidak ada kabar meski sudah lewat deadline
E-Mail dan chat tidak dibalas
Lowongan tetap buka, tapi kamu dibiarkan menggantung.
Ini bukan seleksi alam, ini itu budaya kerja yang malas dan tidak empatik.
Banyak yang sering berkata:
“Namanya juga nyari kerja, biasain aja”.
Seolah-olah capek mental, cemas dan rasa tidak berharga itu hal remeh.
Padahal ghosting saat interview bisa:
Merusak kepercayaan diri
Menumbuhkan rasa tidak pantas
Membuat kandidat menurunkan standar
Memicu overthinking berkepanjangan
Yang menyakitkan bukan penolakannya, tapi ketidakjelasannya.
Kamu sudah follow up dengan sopan, tetapi tidak ada respon. Berhentilah menyalahkan diri sendiri. Dan hal ini bukan hanya terjadi setelah proses interview. Karena, ada beberapa kandidat yang bahkan mengalami ghosting sebelum melakukan interview. Mereka di kabari oleh HRD lolos ke tahap interview, namun ketika kandidat meminta kejelasan terkait interview _ perusahaan menghilang. Chat dan E-Mail hanya dibaca tanpa adanya balasan yang jelas.
Perusahaan yang sehat itu:
Menghargai waktu kandidat
Memberi kepastian
Tidak membiarkan orang menggantung
Kalau sejak awal sudah tidak menghargai, bagaimana nanti saat kamu bekerja di sana?
Penting untuk diingat:
Tidak dikabari bukan berarti kamu tidak layak
Kadang kamu tidak dipilih bukan karena kamu kurang, tetapi karena:
Proses rekrutmen berantakan
HR overload
Keputusan internal tidak jelas
Atau sekedar budaya kerja yang buruk
Mencari kerja sudah cukup melelahkan tanpa harus ditambah ketidakjelasan.
Kamu datang dengan niat baik, waktu dan harapan _ hal paling minimal kamu terima adalah jawaban.
Kalau hari ini kamu masih menunggu kabar yang tak kunjung datang, ingat satu hal; diam mereka tidak menentukan nilaimu. Itu hanya menunjukkan siapa sebenarnya mereka.

Komentar
Posting Komentar