Langsung ke konten utama

Postingan

Bisa Nggak, Perempuan Punya Waktunya sendiri?

Bisa Nggak, Perempuan Punya Waktunya sendiri? Ada satu pola yang semakin lama semakin nyebelin. Perempuan nggak bisa lepas dari dunia yang selalu menarik laki-laki ke dalamnya. Ketika perempuan lagi bersinar, lagi punya panggung, lagi mau nunjukin kerja kerasnya…. Tiba-tiba dunia sibuk mengalihkan fokus untuk laki-laki. Bisa nggak perempuan punya waktu dan ruangnya sendiri tanpa laki-laki? Dunia kayaknya selalu panik ketika perempuan bisa melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan laki-laki.  Ini itu bukan sekedar kebiasaan, ini lebih seperti bentuk patriaki modern _ lebih halus, lebih licin dan jauh lebih manipulatif dibanding patriarki jadul yang terang-terangan. Patriarki modern ini tidak melarang perempuan, ia justru mengalihkan fokus. Perempuan zaman dulu dilarang bersekolah, dilarang bekerja, dilarang ngomong politik, dilarang menentukan hidup mereka sendiri. Sekarang? Dilarangnya nggak secara langsung, tapi pakai pengalihan narasi. Caranya gini: Perempuan mau berkarya, yang d...

Cara Meminta Maaf dengan Tulus Agar Hubungan Tetap Harmonis

Maaf kalau…. Kenapa Kalimat Itu Sebenarnya Bukan Permintaan Maaf Banyak orang mungkin tanpa sadar, memakai kalimat dibawah ini saat meminta maaf: “Maaf kalau kamu tersinggung…” “Maaf kalau kamu ngerasa begitu…” “Maaf kalau aku salah….” Sekilas terdengar sopan, tapi sebenarnya frasa “kalau” di dalam permintaan maaf membuat keseluruhan kalimat menjadi defensif, menggantung, dan tidak tulus. Kita seperti sedang menggeser tanggungjawab, bukan mengakuinya. Kita seperti bilang, “Aku nggak yakin aku salah. Mungkin sebenarnya ada di kamu.” Post ini akan membahas kenapa “maaf kalau….” Sering terasa menyebalkan. Apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana seharusnya kalimat permintaan maaf yang lebih dewasa dan tulus tanpa merendahkan diri. 1. “Maaf Kalau….” adalah red flag pertama bahwa kamu belum mengakui kesalahanmu Permintaan maaf yang dewasa dimulai dari penerimaan tanggung jawab. Kalau kamu tidak tahu kesalahan kamu, kamu tidak tahu bagian mana yang menyakiti, kamu bisa bertanya. Tapi memaka...

Mengelola Diri Sendiri: Kunci Bertahan di Dunia yang Tidak Bisa Kita Kendalikan

  Mengelola Diri Sendiri: Kunci Bertahan di Dunia yang Tidak Bisa Kita Kendalikan   Ada satu kenyataan sederhana yang masih sulit kita terima: kita tidak bisa membuat orang lain untuk memperlakukan kita dengan benar, tidak bisa menuntut lingkungan untuk selalu mendukung, dan tidak bisa berharap semua orang akan menghargai batasan yang kita punya.   Dunia tidak akan selalu ada dikendali kita. Tapi ada satu cara untuk kita bisa menyesuaikan diri akan satu hal yang selalu berada dalam kendali kita: cara kita merespon.   Diantara hal yang tidak bisa kita ubah, ada ruang kecil yang diberikan sepenuhnya untuk kita miliki. Mulai dari emosi kita, pikiran kita, cara kita untuk melihat sesuatu dan keputusan yang kita ambil. Ruang kecil inilah yang sebenarnya menentukan arah hidup kita:   Kita tidak bisa mengatur orang lain, tetapi kita bisa mengatur diri kita sendiri. Saat kita menyadari batas ini, hidup akan jauh lebih ringan. Kita berhenti berharap berlebihan, berhenti...

Ruang Aman Menjadi Tempat Potensi Manusia Bertumbuh

Diterima, Bukan Dituntut: Ruang Aman Tempat Potensi Manusia Bertumbuh Ada satu hal yang sering terlupakan _ di rumah, di sekolah, di tempat kerja maupun hubungan personal. Potensi seseorang bisa bertumbuh adalah ketika mereka diterima bukan ketika dituntut. Kita hidup di dunia yang penuh dengan standar_ standar kepintaran, standar kesuksesan, standar kecantikan sampai standar bagaimana seharusnya seseorang hidup ketika usia sudah memasuki kepala dua. Banyak orang tumbuh karena dorongan ekspektasi dari orang lain, yang seharusnya bukan seperti itu, tekanan seperti itu memang sering membuat orang untuk bergerak, tetapi tidak menghasilkan potensi dan pertumbuhan yang sehat dan berjangka panjang. Sebaliknya, ketika kita diterima dengan segala kekurangan _ muncul ruang aman yang membuat potensi tumbuh dan berkembang. Dan dalam ruang aman itulah seseorang mulai berani untuk mencoba, berani untuk gagal dan berani untuk menerima versi terbaik dari diri mereka. Tekanan Tidak Selalu Menghasilkan...

Kritik

 

Kontra RKUHP: Kenapa Banyak yang Marah

Kontra RKUHP: Kenapa Banyak yang Marah Pagi tadi, ketua DPR RI beserta anggotanya mengadakan rapat untuk pengesahan RKUHP menjadi Undang-Undang yang sah. Tapi, justru yang terasa adalah ketakutan dan kemarahan. Hal itu karena banyak pasal yang tidak melindungi/berpihak pada Rakyat tapi melindungi kekuasaan. Kritik utamanya jelas: Kritik Bisa jadi Kejahatan Pasal tentang penghinaan presiden dan anggota lembaga negara, membuat rakyat bertanya-tanya apakah ini negara demokrasi, tapi kenapa “anti kritik”. Jadi polisi lebih mudah untuk menangkap seseorang yang melakukan kritik di media sosial. Negara Masuk Sampai ke Kamar Orang Negara seolah-olah ingin menjadi polisi moral, tanpa memikirkan privasi dari rakyatnya. Apa urusan negara dengan siapa kita tinggal dan mau tinggal dengan siapa.    Demonstrasi Diikat Ketat Opini publik ditutup rapat-rapat, tidak ada yang boleh bersuara. Kita dipaksa untuk tetap diam ditempat apapun yang terjadi. Pemerintah justru lebih takut dengan suara ra...

Refleksi atas Perlakuan Terhadap NewJeans

Ketika Fanatisme K-pop Mengalahkan Moral: Refleksi atas Perlakuan Terhadap NewJeans Belakangan ini, NewJeans menjadi sorotan karena banyaknya ujaran kebencian yang mereka dapatkan dari sebagian publik dan fandom lain. Komentar kasar, rumor yang tidak berdasar, hingga ancaman yang terselubung. Fenomena ini mengundang pertanyaan bagaimana bisa begitu banyak orang, yang dalam kehidupan sehari-hari tampak normal, tetapi kehilangan rasa kemanusiaan hanya karena sebuah grup musik? Fanatisme yang berlebihan  Fanatisme yang melewati batas, dapat berubah menjadi kekerasan verbal dan bullying digital. NewJeans dengan popularitas yang melonjak cepat, menjadi sasaran empuk bagi mereka yang merasa “terancam” oleh popularitas grup baru atau ingin mengekspresikan ketidaksukaan mereka dengan cara ekstrim. Yang lebih mengkhawatirkan adalah hilangnya perspektif moralitas dikalangan fans. Loyalitas terhadap agensi atau grup terkadang membuat mereka lupa untuk memiliki empati dan rasa kemanusiaan. Me...