Refleksi atas Perlakuan Terhadap NewJeans
Ketika Fanatisme K-pop Mengalahkan Moral: Refleksi atas Perlakuan Terhadap NewJeans
Belakangan ini, NewJeans menjadi sorotan karena banyaknya ujaran kebencian yang mereka dapatkan dari sebagian publik dan fandom lain. Komentar kasar, rumor yang tidak berdasar, hingga ancaman yang terselubung. Fenomena ini mengundang pertanyaan bagaimana bisa begitu banyak orang, yang dalam kehidupan sehari-hari tampak normal, tetapi kehilangan rasa kemanusiaan hanya karena sebuah grup musik?
Fanatisme yang berlebihan
Fanatisme yang melewati batas, dapat berubah menjadi kekerasan verbal dan bullying digital. NewJeans dengan popularitas yang melonjak cepat, menjadi sasaran empuk bagi mereka yang merasa “terancam” oleh popularitas grup baru atau ingin mengekspresikan ketidaksukaan mereka dengan cara ekstrim.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah hilangnya perspektif moralitas dikalangan fans. Loyalitas terhadap agensi atau grup terkadang membuat mereka lupa untuk memiliki empati dan rasa kemanusiaan. Mereka membenarkan komentar kasar, membully, menyebarkan rumor, bahkan berkomentar dengan dalih “Kritik Industri”. Padahal, batas antara kritik dan pelecehan itu jelas ada. Menghina, mengancam atau merendahkan artis _ apapun itu alasannya _ itu bukan kritik tapi kekejaman bully.
Inilah yang sedang menimpa NewJeans, terutama setelah mencuatnya kasus antara mereka dengan ADOR/HYBE. Konflik yang seharusnya menjadi ranah profesional justru berubah menjadi perang opini publik. Setiap pernyataan, setiap rumor, dan setiap langkah NewJeans di tengah perselisihan tersebut diperdebatkan secara habis-habis an. Bahkan dijadikan pembenaran bagi sebagian orang untuk menyerang mereka secara personal.
Alih-alih melihat situasi dengan objektif, sebagian publik justru menjadikan konflik itu alasan untuk melabeli NewJeans dengan tuduhan bermacam-macam. Ada yang bilang NewJeans “kurang berterima kasih” ada yang menuduh mereka menyebabkan kekacauan industri musik, bahkan ada yang menyebarkan rumor-rumor yang tidak berdasar hanya untuk agar pihak yang mereka dukung menang. Hal ini menjadi bahan bakar bagi mereka yang sejak awal ingin menjatuhkan NewJeans.
Konflik dengan ADOR membuat NewJeans mendapatkan tekanan dari dua arah. Di satu sisi mereka mendapatkan tekanan dari agensi/industri hiburan dan di satu sisi lainnya mereka mendapatkan tekanan dari publik. Namum ironisnya, sebagian fandom lain menganggap mereka pantas dihujani kebencian, diserang karena mereka berdiri ditengah konflik hanya untuk mendapatkan keadilan. Situasi ini memperlihatkan dengan jelas bahwa kekejaman bully yang mereka terima bukan terjadi meskipun ada konflik, tetapi karena konflik itu dijadikan senjata untuk menyerang mereka secara emosional dan psikologis.
Hujatan yang bertambah setelah NewJeans kalah dari ADOR dan memutuskan kembali bekerja dibawah ADOR
Ketika kabar NewJeans kalah dalam perselisihan dengan ADOR dan memutuskan untuk kembali bekerja dibawah naungan agensi tersebut mencuat, gelombang hujatan makin membesar/ publik yang sejak awal sudah terpolarisasi kini merasa mendapatkan “pembenaran” baru untuk menyerang mereka. Bagi sebagian orang menganggap NewJeans “tidak tahu diri”, “tidak setia”, seolah mereka sepenuhnya tahu apa yang terjadi dibalik pintu tertutup industri hiburan.
Mereka sedari awal memposisikan diri disisi yang berlawanan sehingga mereka beranggapan jika NewJeans pantas mendapatkan komentar-komentar seperti “nah kan, emang dari awal udah nggak bener”, “malu sendiri tuh, udah nangis-nangis di pengadilan”, “makannya jangan sok hebat” dan masih banyak lagi komentar-komentar yang lebih kasar.
Padahal keputusan untuk kembali ke agensi _ apapun alasannya dibalik itu, tidaklah benar untuk merendahkan artis. NewJeans hanyalah sekelompok remaja dan anak muda yang mencoba bertahan di industri yang keras, berusaha melanjutkan karir yang sudah mereka bangun dari kecil. Namun publik yang sudah dipenuhi oleh fanatisme dan sentimen personal melihat hal itu justru dijadikan oleh mereka sebagai “bahan bakar” baru untuk menyerang mereka.
Hujatan itu semakin parah karena orang banyak mengabaikan konteks: tekanan kontrak, internal, dinamika legal, dan psikologis yang tidak mungkin diketahui publik. Mereka tidak peduli, mereka hanya ingin memastikan bahwa pihak “lawan kalah” tanpa memikirkan kesehatan mental artis muda yang sebenarnya tidak mau konflik itu terjadi.
Pada akhirnya keputusan NewJeans untuk kembali ke ADOR memperlihatkan betapa rapuhnya batas antara kritik dan kekejaman bully di dunia kpop. Mereka bukan hanya berusaha untuk kembali memulihkan keadaan, tetapi mengingat bahwa sebagian publik akan menggunakan setiap langkah mereka sebagai alasan untuk menyakiti secara verbal. Dan inilah sisi gelap fanatisme: ketika kebencian menjadi lebih penting daripada rasa kemanusiaan.



Komentar
Posting Komentar