Langsung ke konten utama

Postingan

Life After Lebaran: Ketika Euforia Usai, Hidup Kembali Berjalan

Lebaran selalu datang dengan rasa yang hangat—rumah yang ramai, meja makan penuh, dan hati yang terasa lebih ringan setelah saling memaafkan. Ada tawa, ada cerita, dan ada momen-momen kecil yang diam-diam ingin kita simpan lebih lama. Tapi seperti semua hal baik, Lebaran pun berlalu. Dan di situlah “life after Lebaran” dimulai. Hari-hari setelahnya terasa sedikit berbeda. Rumah kembali sepi, notifikasi ucapan mulai berkurang, dan rutinitas perlahan mengetuk lagi pintu kehidupan. Bangun pagi bukan lagi untuk silaturahmi, tapi untuk kembali ke tanggung jawab. Rasanya seperti ditarik pelan dari suasana hangat ke realita yang lebih tenang—bahkan kadang terasa kosong.  Mungkin yang paling terasa adalah kehilangan momen kebersamaan. Saat semua orang kembali ke aktivitas masing-masing, ada rindu kecil yang tertinggal. Rindu suara ramai di ruang tamu, rindu obrolan ringan tanpa tujuan, atau sekadar rindu makan bersama tanpa terburu-buru. Namun, di balik itu semua, life after Lebaran sebena...

Carpe Diem: Makna Mendalam yang Mengubah Cara Saya Melihat Hidup (Refleksi dari Dead Poets Society)

Ada satu kalimat yang masih saya ingat setelah menonton Dead Poets Society yaitu carpe diem . Dari kalimat sesingkat itu, ternyata bisa merubah cara berpikir saya, bahkan perlahan mengubah cara hidup saya dalam melihat segala sesuatu. Jujur saja, awalnya saya tidak merasa akan mendapatkan sesuatu yang “besar” dari film itu. Saya menontonnya seperti menonton film lainnya—mendapat rekomendasi tontonan dari reels Instagram, kemudian menonton untuk sekadar mengisi waktu. Tapi setelah selesai, ada perasaan yang sulit dijelaskan. Bukan sedih, bukan juga bahagia. Lebih seperti… tersadar. Seolah ada sesuatu yang selama ini saya abaikan, lalu tiba-tiba ditunjukkan begitu saja, tanpa dipaksa.  Carpe diem. Seize the day. Kalimat itu terdengar sederhana, bahkan mungkin terlalu sederhana. Tapi justru karena kesederhanaannya, kalimat itu terasa jujur. Tidak berlebihan, tidak rumit, tapi langsung mengenai sesuatu yang selama ini saya hindari untuk dipikirkan. Saya mulai bertanya ke diri sendiri, ...

Hearts2Hearts: Girl Group Muda yang Bikin Saya Semangat Berjuang Lebih Keras

Beberapa waktu terakhir ini, saya merasa menemukan energi baru dari sesuatu yang mungkin terdengar sederhana: sebuah girl group K-Pop bernama Hearts2Hearts. Jujur saja, saya benar-benar dibuat takjub oleh mereka. Bukan cuma karena visual atau konsepnya, tapi karena melihat betapa muda mereka dan seberapa besar potensi yang mereka miliki. Setiap kali melihat penampilan mereka, saya sering berpikir, “Bagaimana bisa di usia yang masih sangat muda mereka sudah seberani, seberbakat dan setekun itu?” Di dunia K-pop industry, persaingan bukan hal yang main-main. Ribuan trainee berlatih selama bertahun-tahun, tapi tidak semuanya berhasil debut. Itu sebabnya ketika melihat sebuah grup yang baru muncul tapi sudah menunjukkan kualitas yang kuat, rasanya seperti melihat sesuatu yang istimewa. Hal itu juga yang saya rasakan ketika menonton konten atau penampilan dari Hearts2Hearts. Mereka terlihat masih sangat muda, tapi aura kerja kerasnya terasa sekali. Cara mereka menari, bernyanyi, sampai ekspr...

Refleksi Akhir Ramadan: Belajar Bersyukur di Tengah Tekanan Hidup dan Perjalanan Mencari Arah

Tidak terasa, Ramadan sudah sampai di ujungnya. Rasanya seperti baru kemarin kita memulai puasa di hari pertama, masih menyesuaikan ritme bangun sahur, menahan lapar, dan menunggu waktu berbuka. Sekarang, tahu-tahu tinggal satu hari lagi sebelum akhirnya kita sampai di Hari Raya. Jujur saja, menjelang Lebaran tahun ini perasaan saya cukup campur aduk. Di satu sisi, ada rasa senang karena berhasil melewati satu bulan Ramadhan. Ada rasa haru juga karena seperti biasa, Ramadan selalu terasa terlalu cepat berlalu. Tapi di sisi lain, ada juga rasa tekanan yang cukup besar yang saya rasakan secara pribadi. Saya belum punya pekerjaan. Dan mungkin banyak orang yang menganggap hal seperti ini sepele untuk dibicarakan, tapi kenyataannya tidak sesederhana itu. Ketika momen Lebaran semakin dekat, biasanya pertanyaan-pertanyaan klasik mulai bermunculan di kepala: “Kerja di mana sekarang?”, “Sudah dapat kerja belum?”, atau “Sekarang sibuk apa?” Bahkan sebelum orang lain menanyakan itu, kadang kita s...

Review & Makna Film Dead Poets Society (1989): Kisah Neil dan Pesan Hidup yang Menguras Perasaan

Halo teman-teman, rasanya sudah cukup lama saya tidak menulis sesuatu yang benar-benar datang dari perasaan seperti ini. Hari ini saya ingin bercerita tentang sebuah pengalaman sederhana—menonton film—tapi dengan efek yang ternyata tidak sesederhana itu. Saya menonton Dead Poets Society tanpa ekspektasi besar. Saya kira ini hanya film tentang kehidupan sekolah, tentang murid dan guru, tentang belajar dan aturan. Tapi sejak menit-menit awal, suasananya sudah terasa berbeda. Sekolahnya terlihat rapi, teratur, penuh tradisi, tapi di saat yang sama terasa kaku. Seperti ada batas yang tidak terlihat, tapi sangat nyata. Murid-muridnya hidup dalam sistem yang sudah ditentukan. Mereka tidak benar-benar diberi ruang untuk bertanya “apa yang sebenarnya saya inginkan?”, melainkan lebih diarahkan pada “apa yang seharusnya saya lakukan”. Dan di situ, entah kenapa, terasa sangat dekat dengan kenyataan. Lalu datanglah Mr. Keating. Sosok yang tidak hanya mengajar, tapi seperti membuka jendela baru ba...

Sebagai Treasure Maker, Saya Jujur Sedikit Kecewa

Saya sudah cukup lama menjadi Treasure Maker, fandom dari TREASURE. Menjadi fans mereka sebenarnya adalah pengalaman yang menyenangkan. Ada banyak momen yang membuat saya bangga. Setiap comeback terasa seperti perayaan kecil, setiap penampilan mereka di panggung selalu membuat saya kagum, dan setiap kali mereka mencapai sesuatu yang besar rasanya seperti ikut merayakannya juga. Tapi belakangan ini ada satu perasaan yang terus muncul di kepala saya, dan jujur saja agak sulit untuk diabaikan. Perasaan itu adalah kecewa. Bukan kecewa pada TREASURE sebagai artis. Bukan juga pada para member yang jelas sudah bekerja sangat keras selama ini. Saya justru sangat menghargai usaha mereka. Mereka latihan bertahun-tahun sebelum debut, mereka terus berkembang, mereka juga menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar idol biasa. Yang membuat saya kecewa justru situasinya. Tahun ini TREASURE sudah hampir memasuki enam tahun sejak debut mereka di bawah YG Entertainment. Enam tahun sebenarnya bukan waktu yan...