Akhir-Akhir Ini Saya Pede Banget Bikin Video Reaction di YouTube, Padahal Dulu Takut Kamera
Ada satu hal yang cukup mengejutkan diri saya sendiri akhir-akhir ini: saya tiba-tiba merasa pede banget buat bikin video reaction dan mengunggahnya ke YouTube. Padahal, kalau ditarik ke belakang, saya termasuk orang yang cukup sering ragu sama diri sendiri. Terutama soal tampil di depan kamera.
Dulu, kamera itu terasa seperti penghakiman. Saya terlalu fokus sama suara sendiri, ekspresi wajah, takut dibilang sok tahu, takut dibilang nggak menarik, atau paling klasik: takut nggak ada yang nonton. Tapi entah kenapa, belakangan ini perasaan itu pelan-pelan berubah.
Awalnya bukan karena target besar atau mimpi jadi YouTuber terkenal. Justru sebaliknya, semuanya terasa sederhana. Saya nonton video, lalu muncul dorongan kecil di kepala: “Kayaknya seru kalau saya reaction-in dari sudut pandang saya.” Dan untuk pertama kalinya, pikiran itu nggak langsung saya patahkan sendiri.
Sebenarnya video nya sangat sederhana, saya tidak menggunakan riasan apapun, hanya menggunakan kaos dan duduk dengan hanya bermodalkan kamera HP biasa. Yang paling bikin saya kaget adalah momen upload. Biasanya, tahap ini penuh drama. Saya bolak-balik cek video, nonton ulang sambil nyari kesalahan, lalu ujung-ujungnya ragu. Tapi kali ini, setelah video selesai, saya langsung unggah. Tanpa banyak ritual meyakinkan diri.
Bukan karena saya merasa videonya sempurna. Justru karena saya akhirnya menerima bahwa nggak semua yang saya buat harus sempurna untuk layak ditunjukkan.
Sejak itu, saya mulai rutin bikin video reaction. Kadang hasilnya saya suka, kadang biasa saja. Ada hari di mana saya pede, ada juga hari di mana saya pengin sembunyi. Tapi yang berubah, saya nggak lagi berhenti hanya karena takut.
Saya mulai melihat YouTube sebagai ruang belajar. Ruang tumbuh. Ruang buat salah tanpa harus menghukum diri sendiri. Setiap video seperti penanda fase hidup saya: cara saya berpikir hari ini, cara saya memandang sesuatu di momen ini.
Kepercayaan diri yang datang juga terasa berbeda. Bukan pede yang keras, tapi pede yang tenang. Pede karena saya tahu, saya sedang jujur. Jujur sama reaksi saya, sama opini saya, sama proses saya.
Kadang saya bertanya ke diri sendiri, kenapa baru sekarang? Tapi mungkin memang baru sekarang saya siap memberi izin ke diri sendiri untuk terlihat. Terlihat apa adanya, tanpa filter berlebihan, tanpa harus selalu tampak pintar atau benar.
Akhir-akhir ini, saya belajar satu hal penting: keberanian nggak selalu datang sebelum kita mulai, kadang dia muncul setelah kita menekan tombol record.
Dan untuk saat ini, itu sudah lebih dari cukup.
Komentar
Posting Komentar