Kenapa Gen Z Susah Beli Rumah?

Beberapa tahun terakhir, satu pertanyaan ini makin sering muncul: kenapa Gen Z susah banget beli rumah? Bahkan berdasarkan berbagai survei, banyak Gen Z diprediksi butuh puluhan tahun untuk menabung rumah—dan itu pun masih belum tentu mengejar kenaikan harga properti.

Masalahnya bukan karena Gen Z terlalu banyak jajan kopi atau liburan. Akar persoalannya jauh lebih struktural.



Rumah Makin Mahal, Tapi Bukan untuk Ditinggali


Data BPS menunjukkan sekitar 7,82% keluarga di Indonesia memiliki rumah lebih dari satu. Angka ini kelihatannya kecil, tapi dampaknya besar.


Banyak rumah tidak dibeli untuk ditinggali, melainkan untuk disimpan sebagai aset. Rumah jadi instrumen investasi, bukan lagi kebutuhan dasar.


Di Indonesia juga belum ada pajak progresif yang benar-benar menekan kepemilikan rumah berlebih. Akibatnya, satu orang bisa punya banyak rumah tanpa beban berarti, sementara generasi baru harus bersaing di pasar yang sudah "penuh".


Generasi sebelum Gen Z pun tumbuh dengan narasi bahwa:


> beli rumah = investasi paling aman


Setiap ada uang lebih, rumah jadi pilihan utama. Pola ini mendorong permintaan terus naik, meskipun kebutuhan hunian riil tidak bertambah.



Gen Z Mulai Mengubah Cara Pandang


Survei Property Perspective from Gen Z menunjukkan 36% Gen Z lebih memilih menyewa daripada membeli rumah.


Ini bukan karena Gen Z anti-commitment, tapi karena mereka lebih realistis.


Buat banyak Gen Z:


  • Harga rumah terlalu jauh dari pendapatan

  • Cicilan KPR terasa seperti jebakan jangka panjang

  • Mobilitas kerja lebih penting daripada punya aset tetap


Menyewa memberi fleksibilitas. Pindah kota lebih mudah. Beban finansial lebih ringan. Dan yang paling penting: tidak memaksa hidup hanya untuk satu tujuan, yaitu membayar rumah.



Properti Masih Layak Disebut Investasi?


Kalau kita bicara murni soal angka, jawabannya makin abu-abu.


Berdasarkan data 99 Group tahun 2023, kenaikan harga properti di Indonesia hanya sekitar 2,2% per tahun.


Bandingkan dengan:


  • Inflasi

  • Kenaikan UMR

  • Instrumen investasi lain seperti obligasi atau reksa dana


Secara return, properti tidak lagi se-seksi dulu. Bahkan dalam banyak kasus, kenaikan harga rumah hanya cukup untuk menutup inflasi—bukan menciptakan keuntungan nyata.


Karena itu, banyak Gen Z melihat rumah bukan sebagai investasi, melainkan:


> tempat tinggal, titik pulang, kebutuhan hidup


Dan itu wajar.



Jadi, Mending Sewa atau Beli Rumah?


Jawabannya tidak hitam putih.


Beli Rumah Masuk Akal Kalau:


  • Sudah punya penghasilan stabil

  • Berencana tinggal lama di satu kota

  • Cicilan tidak lebih dari 30% penghasilan

  • Rumah dibeli untuk ditinggali, bukan spekulasi


Sewa Lebih Masuk Akal Kalau:


  • Penghasilan masih fluktuatif

  • Karier butuh mobilitas tinggi

  • Harga rumah di kota terlalu tidak rasional

  • Lebih ingin fleksibilitas hidup


Menyewa bukan kegagalan. Tidak beli rumah di usia 20-an juga bukan tanda hidup tidak sukses.


---


Penutup: Rumah Bukan Tolok Ukur Nilai Hidup


Gen Z hidup di kondisi ekonomi yang berbeda. Harga properti naik lebih cepat daripada pendapatan. Beban hidup lebih kompleks. Dan itu bukan kesalahan pribadi.


Mungkin sudah saatnya kita berhenti memaksakan standar lama ke generasi baru.


Punya rumah itu bagus. Tapi punya hidup yang tidak tercekik cicilan juga penting.


Kalau menurut kamu sendiri, di kondisi sekarang:

lebih masuk akal sewa atau beli rumah? 👇


Komentar

Postingan Populer