Review Film The Truman Show: Ketika Film Lama Membuat Saya Mempertanyakan Arti Hidup
Setelah Menonton The Truman Show: Film Lama yang Membuat Saya Mempertanyakan Hidup Sendiri
Saya tidak menonton The Truman Show dengan niat mencari makna hidup. Awalnya hanya ingin mengisi waktu, menonton film yang sering disebut orang-orang sebagai film klasik dengan pesan filosofis. Tapi saya tidak menyangka, setelah film ini selesai, justru kepala saya terasa lebih ramai daripada sebelumnya.
The Truman Show bercerita tentang Truman Burbank, seorang pria yang sejak lahir hidup di dunia buatan tanpa pernah mengetahuinya. Seluruh hidupnya adalah sebuah acara televisi. Rumah, pekerjaan, teman, bahkan orang yang ia cintai—semuanya adalah bagian dari skenario. Ironisnya, Truman menjalani hidupnya dengan perasaan bahwa semuanya baik-baik saja.
Dan di situlah saya mulai merasa tidak nyaman.
Karena Truman tidak menderita. Ia tidak disiksa. Ia tidak hidup dalam kekacauan. Ia hidup dengan rapi, aman, dan teratur. Persis seperti gambaran hidup ideal yang sering kita kejar. Tapi justru itu yang membuat film ini terasa menakutkan. Truman tidak sadar bahwa hidupnya bukan miliknya sendiri.
Sepanjang film, ada banyak momen kecil yang membuat Truman merasa ada yang tidak beres. Kejanggalan-kejanggalan sepele yang tidak bisa ia jelaskan. Namun setiap kali ia hampir sadar, selalu ada sesuatu yang “menenangkan” kembali—penjelasan logis, orang-orang terdekat yang membujuk, situasi yang dibuat agar ia tetap tinggal.
Saya merasa, hidup kita pun sering bekerja dengan cara yang sama.
Kita mungkin tidak hidup di dalam acara televisi, tapi kita hidup di dalam sistem yang pelan-pelan membentuk cara kita berpikir. Sejak kecil kita diberi tahu bagaimana hidup seharusnya dijalani. Sekolah, pekerjaan, hubungan, kesuksesan. Tanpa sadar, kita belajar menyesuaikan diri, bukan mempertanyakan.
Ada masa di mana kita merasa lelah tanpa tahu sebabnya. Merasa kosong padahal hidup terlihat baik-baik saja. Merasa tidak sepenuhnya hidup, tapi juga tidak berani berhenti. Perasaan itu, setelah menonton The Truman Show, terasa seperti tanda-tanda kecil yang dulu juga dialami Truman.
Yang membuat saya semakin terdiam adalah satu hal: Truman sebenarnya bisa pergi sejak lama. Tapi ia tidak melakukannya karena takut. Dunia di luar sana digambarkan berbahaya. Lautan menjadi simbol ketakutan yang sengaja ditanamkan sejak kecil. Bukan karena Truman tidak mampu, tapi karena ia diyakinkan bahwa ia tidak akan sanggup.
Saya rasa, ketakutan semacam itu juga sering kita miliki. Takut mencoba hal baru. Takut keluar dari pekerjaan yang tidak membuat bahagia. Takut meninggalkan kehidupan yang sudah kita kenal meski terasa menyesakkan. Bukan karena kita tidak bisa, tapi karena kita terlalu lama diyakinkan bahwa pilihan lain itu berisiko.
Bagian paling mengena dari film ini bukan ketika Truman marah atau panik, tapi ketika ia akhirnya harus memilih. Tidak ada kepastian bahwa hidup di luar sana akan lebih baik. Tidak ada jaminan kebahagiaan. Yang ada hanya satu hal: kebebasan untuk menentukan hidupnya sendiri.
Dan ternyata, kebebasan memang tidak pernah datang dengan rasa aman.
Saat Truman melangkah pergi, saya tidak melihat akhir yang bahagia seperti di film-film kebanyakan. Saya melihat seseorang yang akhirnya berani mengambil alih hidupnya sendiri, meski dengan tangan gemetar. Ia memilih hidup yang nyata, meski penuh risiko, daripada hidup palsu yang nyaman.
Setelah menonton The Truman Show, saya mulai bertanya pada diri sendiri. Seberapa banyak keputusan dalam hidup ini yang benar-benar saya ambil dengan sadar? Dan seberapa banyak yang saya jalani hanya karena “sudah seharusnya begitu”?
Film ini tidak menggurui. Ia hanya menyodorkan cermin. Dan kadang, bercermin adalah hal yang paling tidak nyaman. Karena kita dipaksa melihat apakah hidup yang kita jalani ini sungguh kita pilih, atau hanya hasil dari kebiasaan, tuntutan, dan rasa takut yang tidak pernah kita akui.
Mungkin kita semua adalah Truman dalam versi yang berbeda. Tidak dengan kamera tersembunyi, tapi dengan ekspektasi sosial, tekanan ekonomi, dan standar hidup yang terus membentuk kita. Dan mungkin, keberanian terbesar bukanlah mengubah hidup secara drastis, tapi berani bertanya pada diri sendiri: apakah saya benar-benar hidup, atau hanya berperan?
The Truman Show berakhir dengan sebuah pintu. Pintu yang sederhana, tapi penuh makna. Dan sejak film itu selesai, saya merasa seperti pintu itu juga muncul dalam hidup saya. Tidak untuk langsung dibuka, tapi untuk disadari keberadaannya.
Karena terkadang, kesadaran adalah langkah pertama menuju hidup yang lebih jujur.
Komentar
Posting Komentar