Kenapa Saya Tidak Percaya Karma: Opini Pribadi tentang Dunia yang Tidak Selalu Adil
Kenapa Saya Tidak Percaya Karma
Ada satu kalimat yang sering saya dengar setiap kali seseorang disakiti, dikhianati, atau diperlakukan tidak adil:
Tenang saja, nanti juga kena karma
Kalimat itu terdengar menenangkan. Seperti janji tak tertulis bahwa dunia ini adil, hanya saja keadilannya datang belakangan. Dan mungkin, di titik tertentu dalam hidup, saya juga pernah ingin percaya itu.
Tapi semakin lama saya hidup, semakin banyak yang saya lihat, semakin sulit bagi saya untuk benar-benar percaya bahwa karma bekerja seperti cerita yang sering kita dengar.
Saya melihat orang-orang baik yang hidupnya terus diuji. Mereka jujur, mereka sabar, mereka tidak suka menyakiti orang lain. Tapi hidup mereka seperti tidak pernah benar-benar ringan. Masalah datang silih berganti, seolah kebaikan tidak pernah cukup sebagai pelindung.
Di sisi lain, saya juga melihat orang-orang yang terang-terangan licik. Yang memanfaatkan, memanipulasi, bahkan menjatuhkan orang lain demi kepentingannya sendiri. Anehnya, hidup mereka baik-baik saja. Kariernya naik. Uangnya jalan. Lingkarannya aman. Mereka tertawa, liburan, dan tidur nyenyak tanpa rasa bersalah.
Di titik itu saya mulai bertanya pelan-pelan: kalau karma memang ada, kapan tepatnya ia bekerja?
Banyak orang berkata, “Karmanya nanti, nggak sekarang.” Tapi jawaban itu terasa terlalu mudah. Seolah semua ketidakadilan hari ini bisa disapu bersih oleh janji di masa depan yang tidak pernah jelas kapan datangnya.
Menurut saya, kepercayaan pada karma sering kali bukan soal kebenaran, tapi soal kebutuhan. Kita butuh sesuatu untuk dipegang saat tidak berdaya. Saat tidak bisa melawan, tidak bisa membalas, dan tidak punya posisi untuk menuntut keadilan, karma menjadi penghibur. Ia memberi harapan bahwa kita tidak harus melakukan apa-apa, karena semesta akan turun tangan.
Dan saya mengerti kenapa orang membutuhkannya.
Masalahnya muncul ketika kepercayaan itu membuat kita berhenti bergerak. Kita memilih diam karena percaya pelaku akan mendapatkan balasannya sendiri. Kita menahan diri untuk memperbaiki hidup karena yakin keadilan akan datang tanpa perlu diperjuangkan.
Padahal, dari apa yang saya lihat, dunia jarang bekerja seperti itu.
Ada asumsi lain dalam konsep karma yang sering luput dibicarakan: bahwa orang yang berbuat jahat akan merasa bersalah. Bahwa batin mereka akan tersiksa. Tapi kenyataannya tidak semua orang punya hati nurani yang sama. Tidak semua orang memikul beban moral atas perbuatannya.
Banyak orang bisa menyakiti tanpa rasa sesal. Mereka tidak terbangun di malam hari karena menyesal. Mereka tidak dihantui mimpi buruk. Mereka hanya melanjutkan hidup, dan sering kali, hidup mereka baik-baik saja.
Kalau penderitaan batin dianggap sebagai karma, maka konsep itu runtuh ketika pelaku tidak merasakan apa pun.
Saya juga melihat bahwa hidup lebih banyak dipengaruhi oleh sistem daripada balasan moral. Uang, koneksi, kekuasaan, dan posisi sosial sering kali jauh lebih menentukan nasib seseorang dibanding apakah dia orang baik atau buruk.
Orang dengan privilege bisa membuat kesalahan besar dan tetap aman. Sementara orang biasa harus menanggung konsekuensi berat dari kesalahan kecil. Ini bukan soal pesimis. Ini soal mengakui realita.
Karena itu, saya pribadi tidak percaya karma dalam pengertian mistis—sebagai kekuatan tak terlihat yang otomatis menyeimbangkan keadilan.
Yang saya percaya adalah konsekuensi.
Bukan semesta yang menghukum, tapi sebab dan akibat yang nyata. Kalau kita malas belajar, peluang kita mengecil. Kalau kita menyakiti orang, mungkin suatu hari reputasi kita rusak. Bukan karena alam semesta marah, tapi karena dunia sosial bekerja seperti itu.
Dan bahkan konsekuensi pun tidak selalu adil. Ada yang lolos. Ada yang tidak.
Mungkin terdengar pahit, tapi justru dari sini saya belajar satu hal penting: jangan hidup baik karena takut karma. Hiduplah baik karena itu pilihan, bukan karena berharap balasan.
Dan jangan menunggu keadilan turun dari langit. Kalau ada hal yang bisa diperjuangkan, perjuangkan. Kalau ada posisi yang bisa diperbaiki, perbaiki.
Karena kalau kita terlalu percaya bahwa segalanya akan dibalas dengan sendirinya, kita berisiko kehilangan satu-satunya hal yang benar-benar kita punya: kendali atas langkah kita sendiri.
Komentar
Posting Komentar