Frankenstein
Kemarin saya akhirnya nonton Frankenstein, saya menyadari satu hal yang selama ini keliru di pahami. Film Frankenstein ternyata bukan sekedar cerita horor tentang monster mengerikan, melainkan kisah yang menyentuh tentang kesepian, penolakan dan kemanusiaan.
Awalnya saya menonton film Frankenstein tanpa ekspektasi besar. Dibayangan saya, monster Frankenstein selalu digambarkan sebagai sosok jahat yang menebar ketakutan. Namun, semakin lama ceritanya berjalan, pandangan saya perlahan berubah. Dan juga Frankenstein ini bukan nama monsternya, melainkan nama ilmuan yang menciptakan monster tersebut. Sedangkan ciptaannya bernama the monster.
Sejak dulu kan memang, the monster itu identik dengan rupa menyeramkan. Jadi saat menonton Frankenstein, saya mengira fokus ceritanya hanya pada eksperimen gagal dan teror dari monster.
Nyatanya yang paling mengganggu adalah bukan penampilan monster itu, melainkan bagaimana manusia memperlakukannya. Ia tidak pernah meminta untuk diciptakan, tetapi harus menanggung akibat dari ambisi manusia.
Dalam cerita Frankenstein, makhluk yang diciptakan oleh Victor Frankenstein tidak langsung berubah menjadi jahat. Ia belajar memahami dunia, belajar berbicara, dan belajar merasakan emosi. Ia hanya ingin satu hal sederhana: diterima
Namun setiap usahanya selalu berakhir dengan penolakan. Dari sinilah saya mulai memahami makna yang sebenarnya. Monster itu tidak lahir jahat, ia dibentuk oleh kesepian dan perlakuan manusia. Jadi, kejahatan seringkali muncul bukan karena niat, tetapi karena luka yang terus dibiarkan.
Tokoh penciptanya Victor Frankenstein justru terasa lebih menyeramkan menurut saya. Ia berhasil menciptakan kehidupan, tetapi gagal memikul tanggung jawab sebagai pencipta. Dalam kisah Frankenstein, ambisi ilmiah berjalan tanpa empati.
Film Frankenstein seolah mengingatkan bahwa kecerdasan dan ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan dapat berubah menjadi bencana.
Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari film Frankenstein yang terasa relevan hingga sekarang. Tentang bagaimana manusia sering menciptakan sesuatu, lalu meninggalkannya saat muncul konsekuensi.
Cerita Frankenstein juga menyinggung soal penilaian manusia yang hanya melihat dari penampilan luar. The Monster dianggap berbahaya bukan karena perbuatannya di awal, tetapi karena wujudnya.
Setelah menonton, pertanyaan ini terus melintas dipikiran saya: siapa monster sebenarnya? Makhluk yang ditolak sejak awal kehidupannya, atau manusia yang menciptakan lalu mengabaikan?
Cerita Frankenstein tidak memberikan jawaban hitam-putih. Justru disitulah kekuatannya _ membuat penonton merenung tentang empati dan tanggung jawab.
Film Frankenstein memberikan pengalaman yang berbeda. Ini bukan hanya tentang film horor, melainkan tentang sisi gelap kemanusiaan. Makna Frankenstein terasa semakin dalam ketika kita melihatnya dari sudut pandang monster yang hanya ingin diterima.
Dan setelah film Frankenstein selesai, saya akhirnya sampai pada satu kesimpulan: monster paling menakutkan bukan yang berwajah buruk, tetapi yang kehilangan rasa kemanusiaan.

Komentar
Posting Komentar