Ketika Pelupa Bukan Sekedar Lupa

 

Gambar Credit: Narabahasa

๐Ÿง  Ketika “Pelupa” Bukan Sekedar Lupa

Banyak yang tidak tahu, sifat “pelupa” itu bisa jadi salah satu hasil dari trauma berkepanjangan.

Trauma berkepanjangan itu membuat otak lebih banyak bekerja pada mode “survival”, sehingga memori jangka pendek dan fokus sering terganggu.

1.  Otak yang Terlalu Lama Siaga

Kita sering marah pada diri sendiri karena sering lupa, padahal itu karena otak sedang mode “survival” alias mode bertahan hidup.

Saat seseorang mengalami tekanan berat, kehilangan atau stres yang berkepanjangan, bagian otak yang bernama amigdala akan terus aktif.

Tugasnya adalah memastikan kita aman dari bahaya. Tapi kalo mode ini nyala terus, energi otak tersedot untuk waspada terus-menerus. Akibatnya kemampuan otak untuk menyimpan dan mengingat hal-hal kecil jadi menurun.

Kita pun jadi sering lupa hal sederhana_ seperti lupa menaruh kunci, lupa membalas pesan orang, atau kehilangan fokus di tengah percakapan.
 

“kadang otak bukan sedang gagal mengingat. Ia hanya terlalu sibuk memastikan kamu aman”



 2. Kenapa Trauma Mempengaruhi 

Trauma mempengaruhi dua bagian otak:
·         Hipokampus, yang bertugas menyimpan memori jangka pendek.
·         Prefontal cortex, yang berperan dalam fokus dan pengambilan keputusan.

Ketika stres berkepanjangan terjadi, dua bagian ini melemah aktivitasnya. Itulah mengapa orang yang pernah melalui pengalaman emosional berat sering merasa “blank” atau susah konsentrasi, meski sedang tidak ada tekanan besar. 

Keadaan seperti itu dikenal dengan brain frog_ perasaan seperti otak berkabut, sulit fokus, dan cepat lelah secara mental.


 
3. Tidak Selalu Karena Peristiwa Besar 

Trauma tidak selalu datang karena kejadian ekstrem. Kadang, ia terbentuk pelan-pelan dari lingkungan yang membuat kita merasa tidak aman secara emosional.

Misalnya sering di kritik tanpa henti, membuat jadi tidak merasa cukup atau hidup di situasi penuh tekanan tanpa lingkungan yang bisa memberi dukungan.

Tubuh dan otak menyimpan jejak dari pengalaman itu_ maka meskipun kita terlihat “baik-baik saja” sistem saraf kita bisa saja masih bekerja seolah kita masih dalam kondisi bahaya.

 

“Tidak semua luka bisa terlihat. Kadang, ia hanya meninggalkan kebiasaan kecil seperti mudah lupa.

 

4. Cara Perlahan Menenangkan Otak

Kabar baiknya, otak bisa pulih. Ia hanya perlu diyakinkan kalau keadaan sudah aman. Berikut beberapa cara untuk menenangkan otak:

1.      ๐Ÿ’คTidur yang cukup dan Berkualitas_ karena saat tidur, otak memperbaiki emosi dan bisa beristirahat.

2.      ๐Ÿคน๐Ÿฝ‍♀️Kurangi multitasking_ fokus pada hal banyak bisa mempengaruhi konsentrasi, oleh karena itu, fokus pada satu hal bisa membantu lebih konsentrasi dan mengurangi beban mental.

3.      ๐Ÿ’•Latihan mindfulness_ melatih diri untuk hadir di momen sekarang tanpa menghakimi situasi dan kondisi diri sendiri.

4.      ๐Ÿ’ฆCeritakan perasaanmu_ beragi apa yang kamu rasakan kepada teman, sahabat, keluarga atau pada orang yang membuat kamu nyaman. Itu akan lebih baik karena kamu bisa berbagi dan terbuka tentang perasaan yang kamu alami.

5.      Berikan waktu untuk pulih_ ingat penyembuhan bukan lomba, karena setiap orang punya ritme nya masing-masing.

 

 5. Lupa Bukan Tanda Lemah

Kita hidup di dunia yang menuntut kecepatan, produktivitas dan fokus terus-menerus. Tapi manusia bukan mesin, ada kalanya otak dan hati bisa lelah. Oleh karena itu, menjadi pelupa bukan suatu kesalahan, melainkan tanda bahwa tubuhmu sedang minta waktu untuk istirahat sebentar.

 

“Kamu tidak malas. Tapi kamu hanya manusia yang sedang belajar untuk pulih.”

Jadi, lain kali kalo kamu lupa hal-hal kecil jangan langsung menyalahkan diri sendiri dulu. Tarik napas pelan-pelan dan sadari kamu sudah berjuang cukup jauh.

Pelupa bukan berarti kamu gagal, mmelainkan menjadi bukti bahwa otakmu sedang berusaha menyeimbangkan diri setelah lama bertahan. Pelan-pelan aja yang penting kamu bisa terus berproses. Nggak perlu sempurna. Take your time.

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan Populer