Berdamai dengan Takdir: Proses Tersulit tapi Juga Menenangkan
"Berdamai dengan Takdir" mungkin terdengar seperti kalimat sederhana_ hanya tiga kata yang bisa diucapkan dalam satu tarikan napas. Tapi nyatanya itu adalah proses paling berat dalam perjalanan hidup manusia. Kita bisa memaksakan diri untuk menerima takdir dari yang diatas, kita bisa menahan air mata, kita bisa terlihat "baik-baik saja" namun ketika semua berada dititik yang paling bawah, yang bisa kita lakukan hanya mengikhlaskan.
Mengikhlaskan bukan berarti menyerah, mengikhlaskan bukan berarti kita tidak berusaha. Melainkan bentuk kepercayaan_ bahwa apapun yang terjadi, meskipun tidak sesuai yang diharapkan adalah tetap bagian dalam perjalanan hidup yang harus dilalui dan merupakan suatu proses tumbuh lebih baik.
Ketika Manusia Berdamai dengan Takdir Terasa Berat
Karena manusia punya harapan, semua dilakukan dengan merencanakan. Tetapi ketika yang direncanakan tidak sesuai ekspektasi, rasanya dunia runtuh dan hancur.
Kita mulai bertanya:
"Kenapa harus aku?"
"Kenapa harus begini?"
"Kenapa semua tidak sesuai dengan rencana!".
Pertanyaan itu menghantui setiap hari, membuat tidak bisa tidur, sulit makan atau bahkan sulit untuk bahagia kembali. Karena bagian dari menerima takdir bukan hanya menerima peristiwanya, tapi menerima bahwa kita tidak bisa mengontrol kehidupan kita semuanya.
Disitulah ego di uji.
Ikhlas adalah proses pelan-pelan yang harus dijalani, setiap orang punya waktunya sendiri dalam menerima dan melepas. Ada yang dalam seminggu, ada yang berbulan-bulan bahkan ada yang bertahun-tahun masih belajar melepas luka, kenangan, atau harapan yang tidak sesuai.
Melakukan sesuatu mungkin bisa membuat lebih baik:
- Belajar untuk tidak menyalahkan diri sendiri
- Berhenti menyalahkan orang lain
- Berhenti bertanya "kenapa".
Let Go and Let God
Ada momen dimana manusia ada pada titik paling lelah. Saat sudah melakukan segalanya, berjuang mati-matian, berusaha memperbaiki dan berdoa tanpa henti_ tapi hasilnya tetap tidak sesuai.
Pada titik itu kita belajar konsep yang sering diucapkan tetapi jarang dipahami: pasrah.
Pasrah bukan berati berhenti berusaha.
Pasrah adalah melepaskan yang memang bukan kendali kita. Kita tetap bekerja, tetap berusaha, tetap berdoa, tapi untuk hasilnya kita serahkan kepada Tuhan.
Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang sesuatu yang diinginkan, melainkan ada skenario yang lebih besar. Ada jalan yang ditulis_ dan bukan tanpa alasan.
Saat Menerima, Hati Menjadi Lebih Tenang
Banyak orang tidak sadar bahwa rasa gelisah, kecewa dan tidak senang terjadi karena ketidakmauan menerima apa yang terjadi pada diri kita.
Ketika kita memaksakan untuk tetap tinggal padahal harus sudah pergi, maka hati akan tersiksa.
Ketika kita memaksa masa depan untuk mengikuti skenario yang kita buat, padahal Tuhan menunjukan arah yang berbeda, maka hidup akan terasa berat.
Tetapi pada akhirnya ketika berkata "Ya sudah, mau bagaimana lagi_ sudah takdirnya". Semuanya terasa lebih ringan.
Mungkin luka masih ada, tapi batin sudah menerima. Dan ketika penerimaan itu terjadi hidup menjadi lebih damai.
Berdamai Bukan Berarti Lupa
Menerima takdir bukan berarti kita lupa akan semua yang terjadi, melupakan semua kenangan masa lalu atau menolak semua emosi yang pernah kita rasakan.
Justru berdamai adalah ketika kita bisa memandang masa lalu tanpa amarah dan penyesalan.
Masa lalu tetap ada, tidak lagi menyakitkan, tidak lagi menjadi beban. Hanya menjadi pelajaran yang membuat kita lebih dewasa dan lebih mengenal diri kita sendiri.
Berdamai dengan takdir” is a simple phrase but it’s the hardest part of living.
To ikhlaskan everything, to accept whatever is written for you, to let go and let God.
But once you did that, you’ll be at peace
Karena ketika kamu benar-benar mengikhlaskan, kamu akan menemukan kedamaian yang selama ini kamu cari.
Dan di saat itulah… kamu akan paham bahwa Tuhan selalu tahu apa yang terbaik. Kadang kita hanya perlu belajar melepaskan.

Komentar
Posting Komentar