Bagian Terburuk Saat Mengetahui Seseorang Berbohong Pada Kita



Bagian Terburuk Saat Mengetahui Seseorang Berbohong Pada Kita


Ada satu hal yang jarang dibicarakan orang ketika membahas soal kebohongan: rasa sakit yang ada bukan hanya datang dari kalimat bohong itu sendiri, tetapi pada pertanyaan yang tiba-tiba muncul saat kamu duduk sendirian “Kalau ini saja bisa bohong, apalagi yang lainnya, pasti banyak yang ditutupi.”


Dan jujur fase itu berat lohh dan lebih menusuk daripada kebohongannya.

Awalnya mungkin hanya ada satu hal kecil yang kamu temukan, satu detail yang nggak sesuai, cerita yang berubah-ubah. Tapi dari semua kejadian itu, pikiran kamu melayang bebas dan berkembang liar seperti benang kusut yang tidak ada ujungnya.


Karena begini: kebohongan nggak pernah datang sendirian, jarang banget ada orang yang Cuma bohong sekali dalam hidupnya, apalagi kalau itu dilakukan tanpa rasa bersalah yang berarti. Biasanya, ada kebiasaan, ada pola, ada cerita lain yang sengaja dibentuk untuk nutupin celah-celah yang bisa terbuka.


Masalahnya di posisi kamu, karena kamu harus menebak-nebak. Kamu harus menduga, kamu harus meraba mana yang benar mana yang rekayasa. Dan itu melelahkan _ secara mental, emosional dan fisik. Kamu duduk, kamu diam tapi pikiran kamu lari maraton.


Yang bikin tambah pedih, kamu mulai mempertanyakan dirimu sendiri

“Kok selama ini aku nggak sadar ya.”

“Kenapa gampang banget percaya.”

“Apa aku gampang dibego-begoin?” “Apa emang aku bego?”


Dan rasanya menyakitkan, ketika kamu menyadari bahwa kamu selama ini dipermainkan, bukan Cuma perasaanmu, tapi juga naluri percayamu. Kamu seperti kehilangan rasa aman yang selama ini kamu punya. Ironisnya lagi, kebohongan itu bisa bikin kamu memutar ulang momen yang mestinya nggak perlu diungkit. Kamu ingat hal-hal kecil yang dulu kamu anggap wajar, tapi sekarang terasa terlalu janggal. Semua muncul lagi, lengkap dengan detail yang bikin dada sesak.


Dan saat proses itu terjadi, kamu sadar bahwa kebohongannya menghancurkan. Dan perasaanmu menyadari kalau kamu tidak lagi bisa melihat orang itu dengan cara yang sama. Ada trust issue yang selalu ada dibenak kamu jika harus berbagi cerita dengan orang tersebut.


Kamu nggak lagi percaya kalau dia bilang “Aku jujur kok.”

Atau perasaan yang dulu kamu terima ketika dia bilang “Kamu yang berlebihan deh.” Semua itu pudar nggak ada lagi rasa percaya.


Ketika seseorang berbohong, bukan hanya kepercayaan yang hancur tetapi juga akses _ akses ke hatimu, akses ke duniamu, itu adalah akses yang nggak kamu tunjukkan ke sembarang orang. Dan ketika itu disalahgunakan, rasanya seperti kamu dikhianati bukan cuma sebagai pasangan, teman, atau orang dekat—tapi sebagai manusia.

Dan yang jelas, kebohongan itu mengubah cara kamu melihat segala sesuatu. Bukan cuma hubungan, tapi juga dirimu sendiri.


Kamu jadi lebih selektif.

Lebih berhati-hati.

Lebih sensitif terhadap tanda-tanda kecil.

Kadang kamu jadi terlihat dingin, padahal kamu cuma belajar melindungi diri dari rasa sakit yang sama.


Dan itu nggak salah.

Nggak salah sama sekali. Kamu berhak marah, kamu berhak cut off pertemanan, cut off hubungan, berhak kecewa dan kamu punya hak untuk menjaga hatimu. 


Pada akhirnya, kamu mengetahui siapa yang berdiri di seberangmu dan kamu bisa memilih dengan mata terbuka. Apakah kamu memilih untuk tetap berjalan dengan orang yang merusak kepercayaanmu atau memilih untuk berjalan sendiri sambil merawat diri yang masih berhak diperlakukan dengan jujur. 


Komentar

Postingan Populer