Bagaimana Politik Diam-Diam Mengatur Semua Aspek Hidup Kita—Meski Kita Bilang Tidak Peduli



Politik itu seperti udara—kita nggak lihat, tapi semua orang tetap harus menghirupnya. Sejak pagi, sebelum kita sempat membuka mata sepenuhnya, politik sudah lebih dulu bangun dan menunggu kita di depan pintu. Kadang ia hadir dalam bentuk harga listrik naik, bahan pokok naik, jalan bolong nggak dibenerin, sinyal internet lelet juga karena politik. Makannya kalo ada orang yang bilang "oh aku nggak suka politik", "saya nggak peduli sama politik, toh itu tidak mempengaruhi hidup saya" bullshit, well...mungkin mereka Spongebob, pokemon atau makhluk halus. Padahal tiap detik hidup kita ditentukan oleh orang-orang yang duduk di kursi empuk sambil debat siapa paling benar.
Kita cuma bisa nonton dari jauh, sambil mikir: "Wah, hebat ya mereka… Hebat bikin pusing."

Kamu nggak peduli? Kamu pilih netral? Tapi tetap terkena imbas. Politik tetap narik kamu ke bawah, ke samping, ke mana pun ia mau. Kamu cuma bisa ikut, meskipun tidak pernah mendaftar untuk naik wahana ini.
Masyarakat cuma bisa menghela napas sambil melihat berita, berharap ada satu hari saja drama ini berhenti. Tapi mana mungkin, politik itu seperti sinetron, episode nya panjang, apalagi kalo menguntungkan untuk orang-orang yang ada didalamnya. Pemerannya ganti-ganti, dialognya muter-muter tapi alurnya tetap sama. _ kita menunggu hasil, mereka menunggu tepuk tangan.



Oh iya, ketika sore hari melihat anak-anak yang baru pulang sekolah sambil membawa buku yang isinya kurikulum baru _ kurikulum yang juga lahir dari meja politik. Orang tua cuma bisa geleng-geleng kepala dengan melihat tugas anaknya yang semakin abstrak, sementara anaknya bingung, gurunya kewalahan, dan yang merancang kurikulum mungkin sudah rapat untuk membahas kurikulum berikutnya. Ya begitulah sistem negara kita, yang memilih berubah dulu, dipahami belakangan.




Dan akhir-akhir ini yang sedang terjadi adalah banyaknya bencana alam di Indonesia seperti longsor, banjir bandang dan gunung berapi yang erupsi. Setiap kali bencana datang, selalu warga bantu warga, relawan bergerak cepat. Ironisnya yang paling cepat bertindak justru rakyatnya, bukan pada pembuat kebijakan. Kalau mau jujur, bencana bukan hanya datang karena alam "marah" tapi juga hasil dari keputusan manusia yang lagi-lagi lahir dari politik.

Hutan gundul karena izin yang entah keluar dari diskusi macam apa. Sungai yang dipenuhi sampah karena pengelolaan yang sekedar wacana. Infrastruktur pencegah bencana cuma jadi pajangan laporan tahunan. Dan ketika semuanya runtuh jadi bencana, yang disalahkan tetap alam dan takdir. Alamnya yang dimarahin, bukan kebijakannya. 


Lalu muncullah drama klasik: pejabat turun ke lapangan dengan rombongan besar, kamera siap, mikrofon siap, senyum siap, kita yang terkena banjir cuma bisa nonton dari jauh, sambil mikir "oh jadi gini yaa, 'cara kerja pemerintah' datangnya sudah telat dan seringnya cuma sebentar".

Dan seperti biasa, setelah semua berlalu, tidak ada yang benar- benar selesai. Bencana berhenti, tapi kita tetap hidup dalam sistem dengan kesalahan yang diulang seperti playlist yang tidak bisa di skip. Kita masih harus berharap pada keputusan orang-orang yang bahkan belum pernah merasakan kakinya berjalan di atas lumpur.

Dan di tengah semua kekacauan itu, politik tetap duduk di kursi VIP, santai, sambil menunggu episode berikutnya. Karena begitulah pola hidup negeri ini: bencana berganti bencana, masalah berganti masalah, tapi satu hal tidak pernah berubah—politik selalu ikut campur, meski kita tidak pernah memintanya.










Komentar

Postingan Populer