Normalisasi Tidak Menanyakan Hal-Hal Sensitif Terhadap Jobseeker
Ini nihh, nggak enaknya jadi jobseeker, kadang bukan karena lamaran kita yang belum dibalas atau interview yang belum pasti hasilnya. Tapi, tentang orang-orang disekitar kita yang terlalu ingin tahu. Pertanyaannya seperti "udah kerja dimana sekarang?", "katanya kemarin ngelamar kerja disana, kok belum berangkat kerja?", "lamaran kamu diterima nggak?", "kok belum dapet juga sii?". Itu mungkin terdengar biasa aja, tapi buat sebagian orang bisa terasa nggak nyaman dan menekan.
Padahal perjalanan butuh proses, nggak langsung yang lamar terus besoknya kerja, dikira kita doang yang lagi nyari kerja apa🥲 Siapa sii yang mau terus-menerus nyari kerja?!, siapa sii yang mau jadi beban terus?!, siapa sii yang mau hidupnya kayak gini terus?!, nggak ada kan, kita semua pasti sudah mengusahakan yang terbaik, tapi ya gimana kita nggak bisa langsung puter balik dari takdir yang udah digariskan sama yang di atas😇 Kalo merubah takdir semudah membalikkan telapak tangan, pasti semua orang bahagia, mereka bisa semau mereka, kalo ada yang nggak sesuai ya tinggal dirubah. Tapi kan kenyataannya enggak, semua orang udah ditulis takdir nya dan kita nggak bisa merubah itu.
Jadi ayookk, mulai normalisasi untuk tidak menanyakan hal-hal yang sensitif terhadap siapa pun itu, baik pencari kerja, orang yang lagi kerja ataupun orang-orang yang mungkin masih berjuang untuk tetap waras.
Dukungan sederhana seperti "semangat yaa, pasti bisa kok dapet kerja yang cocok"
Itu jauh lebih berarti dari pada seribu pertanyaan yang bikin canggung😃
Karena setiap lamaran yang dikirim itu ada harapan, usaha, doa, dan mungkin sedikit rasa lelah yang mungkin orang lain nggak tahu🍀
Please buat jadi pengingat, kalau gabisa berkata kata yang baik, lebih baik diam. always be careful with your words, because you never know how many times it's repeating in someone's head.

Komentar
Posting Komentar